Showing posts with label Horror. Show all posts
Showing posts with label Horror. Show all posts

Wednesday, May 8, 2013

This Little Town.. Part 6


Setelah aku membaca surat itu, segera aku merogoh sakunya. Tapi sayang, Psikopat itu terlalu cerdas. Dia sudah mengambilnya. "Jelas, dia tidak ingin semua ini menjadi terlalu mudah" gumamku. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara sirine ambulans dari kejauhan. Segera aku dan Karen segera menyuruh orang-orang untuk minggir dan memberi ruang untuk orang yg wajahnya tersiram air raksa ini. Ambulans berhenti tepat di hadapanku, setelah menjawab beberapa pertanyaan dari petugas ambulans, aku dan Karen bergegas pulang.

"Bagaimana dia bisa bergerak begitu cepat? Maksudku, mengambil dompetnya dan menyiramnya dengan air panas dengan sangat cepat! Bisakah kau mempercayainya?" tanyaku sambil beberapa kali memukul setir mobil. "Tenang, aku tahu kau sedang kesal. Tetapi tetaplah fokus, jangan terbawa emosi seperti ini. Itulah yg dia inginkan, membuatmu tenggelam dalam emosi dan disaat kau rentan, dia akan menjegalmu!" jelas Karen. Aku terdiam, Karen ada benarnya. Walaupun aku belum tahu apa motif sebenarnya dari Psikopat ini, tetapi tetap saja aku harus tenang dan mengendalikan emosi. Setelah percakapan tadi, keheningan melanda mobilku hingga akhirnya Karen meminta untuk menginap semalam di apartemenku. Aku mengangguk pelan dan tak berapa lama kemudian kami sampai di apartemenku.

Setelah memarkirkan mobil dan menuju kamarku, aku langsung mengambil berkas-berkas yg diberikan Psikopat itu. Tetapi Karen menahan tanganku dan memaksaku untuk istirahat. Dengan sedikit terpaksa, aku merebahkan tubuhku diatas kasur empukku dengan Karen di sebelahku. Mungkin aku memang sudah terlalu letih, karena tak sampai 5 menit, aku sudah tertidur pulas.

Ketika aku bangun, Karen sudah tidak ada di sisi kasurku. Dia hanya meninggalkan note di atas meja tempat aku menaruh jam wekerku.
Kupikir kau butuh sedikit istirahat. Jadi aku matikan alaramnya dan aku meminjam mobilmu untuk mengambil beberapa barang. Dan ya, aku juga membawa berkas-berkas dari psikopat itu. Aku hanya ingin kau beristirahat hari ini.

Peluk cium,
Karen

Aku tersenyum dan bergumam, "Dasar karen. Selalu saja seperti itu". Aku lalu bangun dan membuat segelas kopi susu dan meminumnya di atas balkon sambil memerhatikan kota. "Sudah lama aku tidak merasakan ketenangan ini" gumamku. Tetapi ketenangan itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba ponselku berdering. Ternyata yg menelponku adalah John, informanku. "Ya?" kataku membuka percakapan. "Scott! Cepat datang ke perumahan 'spring garden'!" jawabnya dengan nada sedikit panik yg lalu menutup teleponnya. Aku memutar mataku kesal karena seseorang mengganggu ketenanganku. Tapi ini adalah tugas, dan aku tak bisa mengabaikannya. Segera aku memakai pakaian kerjaku lalu memanggil taxi untuk pergi menuju rumah Karen.

Sesampainya di rumah Karen, aku melihat Karen yg kebetulan sedang mengunci pintu rumahnya. "Hey, kau mendapatkan kabar itu juga?" tanyaku sambil membayar ongkos taxi. "Ya, tentu saja" jawabnya sambil membuka pintu mobilku. "Mau ikut?" tanya Karen dengan nada sedikit menggoda. "Tentu saja" tanyaku sambil tertawa pelan.

"Kenapa hari ini jalanan harus tertutup oleh kabut?" tanya Karen kesal. Aku tertawa kecil, Karen sangat lucu dan menggemaskan saat sedang kesal. "Hey, apa yg kau ketawakan?" tanya Karen. "Ah, tidak" kataku sambil berdehem. Ya, jalanan saat ini sedang tertutup kabut yg cukup tebal dan mengesalkan. Kami terpaksa jalan sedikit lambat demi keselamatan kami. Tetapi pekerjaanku memaksaku untuk bergerak cepat. Dilema, tetapi keselamatanku harus diprioritaskan, siapa lagi yg akan menyelidiki kasus Psikopat ini kalau bukan aku?

30 menit kemudian kami akhirnya sampai di perumahan 'Spring Garden'. Kabut sudah mulai menipis, tetapi tetap menghalangi pengelihatan kami. Dan itu membuat kami kesulitan menemukan rumah korban. Untung John mau membantuku menemukan rumah korban melalui ponsel. Sekitar 10 menit lamanya kami mencari, akhirnya kami sampai juga di rumah korban yg didesain minimalis. Dengan warna-warna cerah seperti biru langit, hijau, putih, dan lain-lain dipadu dengan indahnya sehingga rumah ini terlihat sangat menarik.

"Hey, Scott! Kami sudah menunggumu" teriak John. "Ya, kabut menghalangi pandangan kami" jawabku dengan nada sedikit kesal. "Bisakah aku langsung memasuki rumah ini dan mengeceknya?" lanjutku. John dan beberapa polisi serentak menganggukkan kepalanya.

Aku dan Karen jalan beriringan memasuki rumah itu. Lalu kami mulai menelusuri ruangan demi ruangan di rumah itu. Rumah itu berantakan sekali, bercak darah yg tampak menghiasi dinding, pecahan kaca serta bingkai-bingkai foto yg sudah patah tampak seolah-olah menghiasi ruangan. Aneh, tidak ada satupun mayat yg tergeletak di rumah itu. Sentak kami menjadi bingung dan terdiam. Ditengah-tengah keheningan kami, terdengar suara oven yg mengagetkan kami. Segera aku dan Karen berlari menuju dapur dan membuka oven.

Di dalam oven itu tersimpan sesuatu yg bundar terbungkus kertas nylon dan terletak diatas piring. Di ujung piring tertera tulisan yg sepertinya ditulis menggunakan spidol permanen;
Nikmati bersama makanan yg sudah ku siapkan di meja makan
Aku dan karen langsung pandang-pandangan. "Bagaimana kalau kita letakkan saja benda ini ke meja makan?" tanya Karen. Aku mengangguk pelan lalu beranjak menuju ruang makan. Aku buka tudung saji yg berada di meja makan dan aku sangat terkejut ketika melihat potongan-potongan tubuh yg sudah sedikit gosong karena sepertinya sudah digoreng sebelumnya. "Jangan-jangan ini adalah.." kata Karen sambil memuka bungkusan nylon. Dan dugaan kami hampir tepat. Itu memang kepala manusia yg dipanggang. Tetapi sebenarnya itu adalah 2 kepala manusia yg dipanggang. Hanya saja kepala itu dibelah 2 terlebih dahulu dan disatukan bagian wajahnya lalu dibungku dengan nylon lalu dipanggang.

"John! Cepat kemari dan bawa polisi-polisi itu!" teriakku dari dalam rumah. Tak lama kemudian, John dan polisi datang menuju kami dan segera menginvestagasi potongan mayat itu. "John, bisakah kau mencari informasi tentang keluarga ini?" tanyaku. "wajah mereka agak sedikit sulit untuk dikenali tapi, aku akan berusaha" jawabnya sambil mengangkat pundaknya. Lalu aku menjabat tangan John. Ketika aku menjabat tangannya, tak sengaja aku menghadapkan wajahku ke jendela dan melihat seseorang berdiri di pinggir pagar memerhatikan kami.

Aku penasaran, dengan buru-buru aku keluar rumah dan mengejar pria itu. Tetapi dia sudah tidak ada. Aku berlari menuju tengah jalan daerah kompleks itu. Tetapi kabut masih menutupi pandanganku. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku sambil mengatakan, "Hey, ada apa denganmu?" yg lalu secara reflek aku arahkan pistolku padanya. "Whoa, hati-hati dengan itu" kata Karen. "Maaf. Aku hanya.. Melihat, seseorang" kataku. Karen mengernyitkan dahinya. "Lupakan itu, sekarang fokus dengan kasus yg terjadi akhir-akhir ini saja. Kau belum menyelesaikan kasus orang yg wajahnya rusak akibat air raksa, kan?" tanya Karen.

"Aku belum menyelesaikan kasus itu. Tetapi kasus ini juga harus aku selesaikan. Tetapi, pertanyaannya. Orang-orang ini berasal dari keluarga yg berbeda, atau.. Mereka adalah satu keluarga?"

Bersambung

Misteri Kota Tua.. Tamat


Kami masih kaget melihat mayat-mayat hidup di sekitar kami. Mereka tidak berkeliaran di sekitar kami, mereka masin menempel di dinding. Walau bagaimanapun juga, tetap saja kami ketakutan. "AAAARGH!! Tooloooong" suara itu berdengung keras di seisi ruangan. Suara itu berulang tak beraturan karena banyak sekali mayat hidup di sekitar ruangan. Kematian. Ini pasti ulah Kematian.Kami membereskan perkakas-perkakas kami dan melipat tenda kami dengan terburu-buru lalu kami pergi memasuki lorong yg gelap.

Tepat ketika kami di depan lorong, cahaya obor menyala dan menerangi lorong tersebut. Kami terus berlari tanpa menghiraukan apapun yg terjadi. Satu-persatu mayat-mayat yg menempel di dinding menjadi hidup dan berusaha menangkap kami. Setiap langkah yg kami ambil, setiap mayat yg kami lewati, mayat-mayat itu mendadak menjadi hidup. Aku menyuruh Florence dan Lotus untuk berlari lebih cepat. Tiba-tiba salah satu mayat di depan kami menjadi hidup dan itu membuat Florence reflek berlari mendekati dinding dan membuat satu mayat menangkapnya. "FLORENCE!" teriakku, tepat saat aku ingin mengambil golokku, seseorang dengan sigapnya mengambil golokku terlebih dahulu lalu memotong tangan mayat itu dan mendorong florence mendekati kami. Aku menangkap Florence dan memeluknya erat. Saat aku ingin berterimakasih, orang itu sudah menghilang. Menghilang dimakan mayat hidup. 

Mayat-mayat hidup tiba-tiba menjadi lebih berisik dan jangkauan mereka menjadi lebih jauh. Bahkan mereka sudah bisa meraih jaketku. Aku menyuruh Florence dan lotus untuk berlari dengan cepat. Setelah aku mengambil golokku di lantai, aku berlari menyusul mereka. Aku terus berlari dan tiba-tiba aku tersandung. Tersandung di sebuah ruangan yg gelap tanpa adanya cahaya dan mendadak cahaya obor di belakang kami mati.

"Florence! Lotus! Dimana kalian?" teriakku memanggil mereka. Aku berharap mereka menjawab sahutanku, tetapi yg aku dengar hanyalah suara langkah seseorang yg memegang tongkat sambil memukulkan tongkatnya ke kerangkeng besi sehingga terdengar suara, "Teng! Teng! Teng!" yg disusul dengan suara tawa. Ya, suara tawa Kematian.

Cahaya obor tiba-tiba menyala dan menerangi ruangan. Dan aku dapat melihat tuan Penderghast, Thomas dan Felix berdiri terikat di atas 3 altar dalam keadaan tidak sadar. Ke-tiga altar tersebut berada tepat di tengah ruangan. Di depan masing-masing altar ada sebuah peti yg berisi pedang. Pedang yg terukir indah dan sangat kuat. "Bagaimana kalau kita bermain permainan kecil? Yg harus kau lakukan hanyalah membunuh salah-satu dari mereka" Kematian berbicara dengan santainya. "Dimana anak dan istriku?" tanyaku. Kematian menghentakkan sabitnya ke lantai beberapa kali dan tiba-tiba Florence dan Lotus yg terkurung dalam sebuah kerangkeng turun dari atap dan mencapai permukaan lantai. "AYAAAAAH!!" teriak Lotus. "Lotus" sergahku sambil berlari menuju anak dan istriku, tetapi Kematian menghempaskanku. "Kau tidak akan bisa memeluk mereka kecuali kau menyelesaikan permainan ini!" Kematian menjelaskan. Aku menelan ludah, lalu berlari ke salah-satu peti dan mengambil pedang yg berada di dalamnya.

Kematian berjalan mendekatiku. Ketika dia tepat berada di belakangku, aku berbalik dan menusuknya tepat di jantungnya. Tetapi Kematian membalasnya dengan tawa. "Kau pikir kau bisa membunuhku? Aku adalah KEMATIAN!" ketika Kematian mengatakan namanya, terdengar suara tawa. Bukan tawa dari Kematian. Tawa itu terdengar dari langit-langit ruangan. Aku mendongak ke atas dan terkejut melihat banyak kepala manusia melayang di langit-langit ruangan. "Terkejut melihat koleksiku?" tanya Kematian. Tiba-tiba salah satu kepala terjatuh dan menggelinding ke arahku. Aku memperhatikan kepala itu dan akhirnya menyadari bahawa itu ada kepala Nikolai. "Kau hampir berhasil, Kevin. Cepat selesaikan permainan ini dan lanjutkan perjalananmu" kata Nikolai dengan lemah. Lalu sebuah pedang melayang ke arahku. Aku melihat Kematian, "Kau sudah tau aturannya" katanya. "Biar kubangunkan mereka" kata Kematian sambil mengangkat tangannya. Ajaib, mereka tiba-tiba terbangun dan meneriakkan sesuatu.

"Jangan bunuh aku! Ingat, aku adalah asisten setiamu" - Thomas
"Bnuh yg lain, tetapi jangan aku. Aku masih kuat, aku akan banyak membantu!" - tuan Penderghast
"Jangan berpikir untuk membunuhku. Aku adalah tetua kota ini, aku bisa membantumu keluar dari sini" - Felix.

Masing-masing orang memberikan alasan mereka. Aku tentu saja merasa bingung. Aku tidak mungkin membunuh Thomas. Dia sangat setia dan sangat sabar menghadapiku. Tetapi aku tidak mungkin juga membunuh tuan Penderghast karena dia akan sangat membantu. Ya, walaupun hubungan terakhir kami tidak terlalu baik, tetapi dia sangat kuat dan pemikirannya sangat cepat. Jangan tanya tentang Felix. Dia bisa membantu kami untuk keluar dari rumah Kematian ini.

Aku melihat keluargaku, Florence sedang memberi isyarat untuk diam sambil menunjuk Lotus. Lalu aku melihat Lotus yg sedang berusaha membuka gembok kerangkeng besi tadi. Sungguh, aku bangga dengan Lotus. Gadis semata wayangku yg cantik jelita, cerdas dan licik. Aku kembali melihat Florence. Aku melihat dia memberi isyarat untukku agar tetap fokus ke permainan.

Aku melihat ke-tiga altar tersebut. Pedang masih aku pegang. Tanganku bergetar. Hatiku berperang menentukan siapa yg seharusnya dibunuh. Semuanya sangat aku butuhkan dan semuanya adalah orang yg dekat denganku. "Hei, apakah kau akan menghabiskan banyak waktu di sin?" Kematian berbicara memperingatiku. Aku menggelengkan kepala dan membuat keputusan. Aku berjalan menaiki altar. "Tidak. Apa yg kau lakukan? JANGAN BUNUH AKU!!". aku hanya bisa menjawab, "Maafkan aku" lalu aku menusuknya tepat di kepalanya. "Tidurlah dengan tenang" aku mengucapkan kata-kata terakhirku.

Aku berdiri dan berbalik, "Sekarang lepaskan keluargaku dan teman-temanku!" perintahku pada Kematian. Kematian mengankat tangannya dan melepaskan ke-dua tahanannya. Tetapi tidak terjadi apa-apa pada kerangkeng keluargaku. "Kau pikir aku akan sebaik itu melepaskan mereka? HAH! Jangan bermimpi" katanya. "Kurang ajar! Ini tidak yg seperti yg kau janjikan!" teriakku. "Hahaha! Aku hanya merubah pikiranku" jawabnya dengan santai. Tanganku bergetar, ingin sekali aku menebas kepalanya. Tetapi itu percuma saja, dia adalah Kematian dan Kematian tidak akan bisa mati. "Hey, lihat sekarang siapa yg licik" kata Lotus dengan nada menantang. Kematian berbalik ke belakang dan terkejut, "Bagaimana kalian bisa keluar?" , "Dengan sedikit kepintaran dan kelicikan" Lotus menjawab dan melemparkan air suci. Kematian berteriak sangat keras. Teriakannya bahkan hampir memekakkan telingaku. Lalu dia melompat dan menghilang ditelan cahaya kehitaman.

"Florence! Lotus!" teriakku sambil berlari memeluk mereka. "AYAH!" teriak Lotus dan Florence. Kami saling berpelukan. Thomas dan tuan Penderghast datang dan ikut memelukku. Lalu kami berdiri dan melanjutkan perjalanan.

"Kevin, kenapa kau membunuh Felix?" tanya Thomas. Lalu aku menjawab:

"Terkadang dalam kehidupan, kau akan menemukan pilihan tersulit dalam hidupmu. Ikuti kata hati nuranimu dan lakukan sesuai dengan perintahnya. Mereka tidak akan pernah salah"

Bersambung

Misteri Kota Tua.. Part 7


Kami masih kaget melihat mayat-mayat hidup di sekitar kami. Mereka tidak berkeliaran di sekitar kami, mereka masin menempel di dinding. Walau bagaimanapun juga, tetap saja kami ketakutan. "AAAARGH!! Tooloooong" suara itu berdengung keras di seisi ruangan. Suara itu berulang tak beraturan karena banyak sekali mayat hidup di sekitar ruangan. Kematian. Ini pasti ulah Kematian.Kami membereskan perkakas-perkakas kami dan melipat tenda kami dengan terburu-buru lalu kami pergi memasuki lorong yg gelap.

Tepat ketika kami di depan lorong, cahaya obor menyala dan menerangi lorong tersebut. Kami terus berlari tanpa menghiraukan apapun yg terjadi. Satu-persatu mayat-mayat yg menempel di dinding menjadi hidup dan berusaha menangkap kami. Setiap langkah yg kami ambil, setiap mayat yg kami lewati, mayat-mayat itu mendadak menjadi hidup. Aku menyuruh Florence dan Lotus untuk berlari lebih cepat. Tiba-tiba salah satu mayat di depan kami menjadi hidup dan itu membuat Florence reflek berlari mendekati dinding dan membuat satu mayat menangkapnya. "FLORENCE!" teriakku, tepat saat aku ingin mengambil golokku, seseorang dengan sigapnya mengambil golokku terlebih dahulu lalu memotong tangan mayat itu dan mendorong florence mendekati kami. Aku menangkap Florence dan memeluknya erat. Saat aku ingin berterimakasih, orang itu sudah menghilang. Menghilang dimakan mayat hidup. 

Mayat-mayat hidup tiba-tiba menjadi lebih berisik dan jangkauan mereka menjadi lebih jauh. Bahkan mereka sudah bisa meraih jaketku. Aku menyuruh Florence dan lotus untuk berlari dengan cepat. Setelah aku mengambil golokku di lantai, aku berlari menyusul mereka. Aku terus berlari dan tiba-tiba aku tersandung. Tersandung di sebuah ruangan yg gelap tanpa adanya cahaya dan mendadak cahaya obor di belakang kami mati.

"Florence! Lotus! Dimana kalian?" teriakku memanggil mereka. Aku berharap mereka menjawab sahutanku, tetapi yg aku dengar hanyalah suara langkah seseorang yg memegang tongkat sambil memukulkan tongkatnya ke kerangkeng besi sehingga terdengar suara, "Teng! Teng! Teng!" yg disusul dengan suara tawa. Ya, suara tawa Kematian.

Cahaya obor tiba-tiba menyala dan menerangi ruangan. Dan aku dapat melihat tuan Penderghast, Thomas dan Felix berdiri terikat di atas 3 altar dalam keadaan tidak sadar. Ke-tiga altar tersebut berada tepat di tengah ruangan. Di depan masing-masing altar ada sebuah peti yg berisi pedang. Pedang yg terukir indah dan sangat kuat. "Bagaimana kalau kita bermain permainan kecil? Yg harus kau lakukan hanyalah membunuh salah-satu dari mereka" Kematian berbicara dengan santainya. "Dimana anak dan istriku?" tanyaku. Kematian menghentakkan sabitnya ke lantai beberapa kali dan tiba-tiba Florence dan Lotus yg terkurung dalam sebuah kerangkeng turun dari atap dan mencapai permukaan lantai. "AYAAAAAH!!" teriak Lotus. "Lotus" sergahku sambil berlari menuju anak dan istriku, tetapi Kematian menghempaskanku. "Kau tidak akan bisa memeluk mereka kecuali kau menyelesaikan permainan ini!" Kematian menjelaskan. Aku menelan ludah, lalu berlari ke salah-satu peti dan mengambil pedang yg berada di dalamnya.

Kematian berjalan mendekatiku. Ketika dia tepat berada di belakangku, aku berbalik dan menusuknya tepat di jantungnya. Tetapi Kematian membalasnya dengan tawa. "Kau pikir kau bisa membunuhku? Aku adalah KEMATIAN!" ketika Kematian mengatakan namanya, terdengar suara tawa. Bukan tawa dari Kematian. Tawa itu terdengar dari langit-langit ruangan. Aku mendongak ke atas dan terkejut melihat banyak kepala manusia melayang di langit-langit ruangan. "Terkejut melihat koleksiku?" tanya Kematian. Tiba-tiba salah satu kepala terjatuh dan menggelinding ke arahku. Aku memperhatikan kepala itu dan akhirnya menyadari bahawa itu ada kepala Nikolai. "Kau hampir berhasil, Kevin. Cepat selesaikan permainan ini dan lanjutkan perjalananmu" kata Nikolai dengan lemah. Lalu sebuah pedang melayang ke arahku. Aku melihat Kematian, "Kau sudah tau aturannya" katanya. "Biar kubangunkan mereka" kata Kematian sambil mengangkat tangannya. Ajaib, mereka tiba-tiba terbangun dan meneriakkan sesuatu.

"Jangan bunuh aku! Ingat, aku adalah asisten setiamu" - Thomas
"Bnuh yg lain, tetapi jangan aku. Aku masih kuat, aku akan banyak membantu!" - tuan Penderghast
"Jangan berpikir untuk membunuhku. Aku adalah tetua kota ini, aku bisa membantumu keluar dari sini" - Felix.

Masing-masing orang memberikan alasan mereka. Aku tentu saja merasa bingung. Aku tidak mungkin membunuh Thomas. Dia sangat setia dan sangat sabar menghadapiku. Tetapi aku tidak mungkin juga membunuh tuan Penderghast karena dia akan sangat membantu. Ya, walaupun hubungan terakhir kami tidak terlalu baik, tetapi dia sangat kuat dan pemikirannya sangat cepat. Jangan tanya tentang Felix. Dia bisa membantu kami untuk keluar dari rumah Kematian ini.

Aku melihat keluargaku, Florence sedang memberi isyarat untuk diam sambil menunjuk Lotus. Lalu aku melihat Lotus yg sedang berusaha membuka gembok kerangkeng besi tadi. Sungguh, aku bangga dengan Lotus. Gadis semata wayangku yg cantik jelita, cerdas dan licik. Aku kembali melihat Florence. Aku melihat dia memberi isyarat untukku agar tetap fokus ke permainan.

Aku melihat ke-tiga altar tersebut. Pedang masih aku pegang. Tanganku bergetar. Hatiku berperang menentukan siapa yg seharusnya dibunuh. Semuanya sangat aku butuhkan dan semuanya adalah orang yg dekat denganku. "Hei, apakah kau akan menghabiskan banyak waktu di sin?" Kematian berbicara memperingatiku. Aku menggelengkan kepala dan membuat keputusan. Aku berjalan menaiki altar. "Tidak. Apa yg kau lakukan? JANGAN BUNUH AKU!!". aku hanya bisa menjawab, "Maafkan aku" lalu aku menusuknya tepat di kepalanya. "Tidurlah dengan tenang" aku mengucapkan kata-kata terakhirku.

Aku berdiri dan berbalik, "Sekarang lepaskan keluargaku dan teman-temanku!" perintahku pada Kematian. Kematian mengankat tangannya dan melepaskan ke-dua tahanannya. Tetapi tidak terjadi apa-apa pada kerangkeng keluargaku. "Kau pikir aku akan sebaik itu melepaskan mereka? HAH! Jangan bermimpi" katanya. "Kurang ajar! Ini tidak yg seperti yg kau janjikan!" teriakku. "Hahaha! Aku hanya merubah pikiranku" jawabnya dengan santai. Tanganku bergetar, ingin sekali aku menebas kepalanya. Tetapi itu percuma saja, dia adalah Kematian dan Kematian tidak akan bisa mati. "Hey, lihat sekarang siapa yg licik" kata Lotus dengan nada menantang. Kematian berbalik ke belakang dan terkejut, "Bagaimana kalian bisa keluar?" , "Dengan sedikit kepintaran dan kelicikan" Lotus menjawab dan melemparkan air suci. Kematian berteriak sangat keras. Teriakannya bahkan hampir memekakkan telingaku. Lalu dia melompat dan menghilang ditelan cahaya kehitaman.

"Florence! Lotus!" teriakku sambil berlari memeluk mereka. "AYAH!" teriak Lotus dan Florence. Kami saling berpelukan. Thomas dan tuan Penderghast datang dan ikut memelukku. Lalu kami berdiri dan melanjutkan perjalanan.

"Kevin, kenapa kau membunuh Felix?" tanya Thomas. Lalu aku menjawab:

"Terkadang dalam kehidupan, kau akan menemukan pilihan tersulit dalam hidupmu. Ikuti kata hati nuranimu dan lakukan sesuai dengan perintahnya. Mereka tidak akan pernah salah"

Bersambung

Misteri Kota Tua.. Part 6


"Apa? Kau berbicara dengan kematian?" Felix tampak kaget. Wajahnya menjadi pucat. "Apakah dia memberimu tantangan?" lanjut Felix. "Ya, dia memberiku tantangan. Aku harus menemukan apa yg terjadi dengan desa ini. Mengapa desa ini terkutuk." jawabku. "Baiklah, itu pertanda buruk. Waspadalah, dia tidak akan membiarkanmu menang. Percaya atau tidak, ruangan itu dikendalikan oleh kematian" Felix memperingatiku. Aku sedikit takut mendengarnya. Tapi keputusan sudah dibuat dan aku harus menyelesaikan ini walaupun aku harus mati.

Aku menuruni tangga yg berhubungan dengan ruangan bawah tanah tempat harta tersebut berada. Teman-teman dan keluargaku sudah menunggu di dalam. Saat aku sudah berkumpul dengan mereka, cahaya obor tiba-tiba menyala dan menerangi perjalanan kami. "Selamat datang di rumahku yg sederhana ini. Kuharap kalian menikmati petualangan ini" suara Kematian bergema di seisi ruangan. Suaranya yg khas dan menyeramkan seakan menghantuiku. Jantungku berdegup kencang, tapi aku berusaha untuk tetap tenang.

Ruangan ini lebih terlihat seperti lorong. Lorong yg luas dan mengerikan. Sementara ruangan yg kami pijak saat ini lebih terlihat seperti lobby. Dinding-dinding lobby ini seakan terbuat dari mayat-mayat. Banyak tengkorak ataupun mayat yg masih segar menempel di dinding. Udaranya panas dan berbau apek. Kami semua terlihat ketakutan. Florence menggenggam erat tanganku dan Lotus memeluk kakiku. "Oke, aku tahu kita semua ketakutan. Tapi aku yakin kita bisa menyelesaikan ini." kataku memberikan semangat. Tidak ada tanggapan dari kata-kataku tadi. Sudah jelas semuanya ketakutan dan suasana di sini sangat menegangkan.

Diterangi cahaya obor yg menggantung di dinding, aku mulai berjalan dan menelusuri lorong demi lorong. Ketika aku berpikir bahwa tidak ada apa-apa di sini, tiba-tiba saja dinding bergetar hebat. Terdengar suara tawa yg memilukan dari kejauhan. Tuan penderghast mundur beberapa langkah sehingga dia semakin dekat dengan dinding. Tiba-tiba salah satu mayat yg menempel berkata, "Toloong. Tolooong akuu" lalu dia berusaha untuk melepaskan kedua tangannya yg menempel di dinding dan memeluk tuan Penderghast. "Toloong akuu.. Lepaskan akuu" suara itu sangat memilukan, menakutkan dan membuatku merinding. Tuan Penderghast berusaha keras melepaskan pelukan mayat tersebut. "AAAAAAAH!!!" tiba-tiba terdengar suara jeritan. Lotus, itu jeritan Lotus!! "Lepaskan tanganku!" kata Lotus memukul tangan mayat yg mencengkram erat tangannya. Disaat seperti ini, aku herus berpikir cepat. "Thomas, bantu tuan Penderghast dan aku akan membantu Lotus" perintahku. Aku mengambil golok yg aku bawa untuk berjaga-jaga dan memotong tangan mayat tersebut. Lotus terjatuh ketika tangan tersebut terpotong. Mayat itu lalu menatapku tajam lalu berteriak. Teriakan itu sangat keras. "Florence, bawa Lotus jauh dari sini, aku harus membantu tuan Penderghast!". Florence memegang tangan Lotus dan berlari sekencang yg mereka bisa. Sedangkan aku memasang sumbat telinga dan berusaha melepaskan pelukan mayat dari tuan Penderghast. Tak kusangka, pelukan itu sangat kuat. "Toolong akuuu!" suara minta tolong itu terdengar semakin keras. Tanpa pikir panjang, aku mengambil golokku dan menusukkannya tepat di kepalanya. Mayat itu mendongak ke atas, merintih kesakitan lalu terjatuh. Dia tidak jatuh ke tanah, tetap tergantung di dinding, hanya sebagian badannya saja yg lepas dari dinding, selebihnya masih menempel.

Setelah tuan Penderghast terlepas dari pelukan mayat, kami berlari menyusul Florence dan Lotus. Beruntung, mereka mendengar teriakan kami. Kami bertemu di ruangan lain yg berbentuk seperti lobby. Di depan kami, tampak sebuah sungai yg memisahkan antara ruang satu, dengan ruang lainnya. Kami harus mencari cara untuk bisa sampai di ruangan seberang. Kami berpencar mencari apapun untuk di pakai menyebrang. "Hey, disini!" Florence berteriak. "Di sini ada semacam tuas" Florence menunjukkan tuas tersebut. Aku memperhatikan tuas tersebut. Tuas itu terbuat dari lengan manusia lengkap dengan tangannya. Ada tulisan di bagian bawahnya.
Hanya dapat ditarik oleh orang terpilih
Lotus membacanya dengan keras. Jujur saja, itu mengagetkanku. Karena hanya aku yg tadi berbicara dengan kematian, aku merasa seperti orang yg terpilih. Dengan perasaan cemas dan takut, aku memegang tuas tersebut dan menariknya. Aneh, tidak tuas tersebut tidak juga turun. "Biar aku yg menariknya" Thomas mengajukan diri. Dia genggam tuas itu, lalu tiba-tiba tuas tersebut mencengkram tangan Thomas. Keringat dingin tampak membasahi kening Thomas. Aku ingin menolongnya, tapi Thomas melarangku. "Tidak, aku tidak ingin kau terluka. Kau adalah kunci dari permainan kematian" Thomas membentakku. Dia menarik tuas tersebut dan akhirnya tuas tersebut turun. Air sungai di bawah kami beriak. Ruangan tempat kami berada bergetar dan dari bawah jembatan mulai terangkat. Jembatan yg lantainya terbuat dari beberapa tulang dan otot-otot manusia sebagai pengerat jembatan tersebut. Aku menyuruh tuan Penderghast, Florence dan Lotus untuk menyebrangi jembatan tersebut. Aku melihat Thomas dan kaget. Kaget karena tangan yg mencengkram Thomas belum juga lepas. Aku berlari mendekatinya dan membantunya dengan cara menarik Thomas. Tapi cengkraman tersebut terlalu kuat. Aku berusaha memotong tulang tersebut, tapi tulang itu terlalu kuat. "Kevin, pergi saja sekarang. Aku hanya memperlambat perjalanan kalian. Aku akan menyusul, aku janji" Thomas lalu memaksaku untuk pergi. Dengan berat hati aku meninggalkannya.

Aku menyebrangi jembatan yg naik ke permukaan dengan pengorbanan Thomas. Jembatan tersebut licin dan sedikit amis. "Kevin, mana Thomas?" tanya tuan Penderghast. Aku hanya menggeleng lemah. Tuan Penderghast tampak pucat dan berlari ingin kembali menyelamatkan Thomas. Ya, Thomas dan tuan Penderghast adalah sahabat baik. Tapi sayang, jembatan itu kembali turun ke bawah sungai sehingga tuan Penderghast tidak bisa menyebrang. Tuan Penderghast berteriak memanggil Thomas. Tetapi tidak ada tanggapan. "Hahahahah! Aku membutuhkan pelayan yg setia seperti dia" suara kematian kembail menggema ruangan. Tuan Penderghast terlihat panik. Dia berbalik lalu mengarahkan telunjuknya padaku, "INI SEMUA SALAHMU! Kalau kau tidak meninggalkannya, dia tidak akan berakhir seperti ini!" tuan Penderghast marah padaku. Aku tidak berani menjawab, bagaimanapun juga ini salahku. Dia benar, aku tidak seharusnya meninggalkan Thomas. Tuan Penderghast mendekat dan hendak menamparku. Tetapi tangannya ditahan oleh Florence. "DIAM! Kau hanya panik! Thomas adalah orang yg cerdas, dia pasti punya rencana. Sekarang bisakan kau diam dan melanjutkan perjalanan?!" Kata Florence kesal. Tak pernah kulihat dia seperti ini. Tuan Penderghast mundur beberapa langkah, lalu berjalan cepat menuju lorong selanjutnya. Tetapi tuan Penderghast tiba-tiba terpeleset dan menabrak tembok. Sentak para mayat yg menempel menjadi kaget lalu mencengkram tuan Penderghast. "Tooolooong akuu.." , "LAPAAAR!! Aku lapaaar!" para mayat merintih kesakitan dan kelaparan. Aku, Florence dan Lotus hanya diam mematung. Melihat tuan Penderghast perlahan hilang. Dia hilang seakan dimakan oleh dinding-dinding. Bukan mayat, tapi dinding. Reflek, aku berlari mengejar tuan Penderghast. "Tunggu ayah. Ini seperti jebakan." Lotus mengambil batu lalu melemparkannya ke mayat-mayat yg menempel. Mayat itu lalu bangun dan berteriak. Lalu beberapa saat kemudian diam dan kembali tidur. Samar-samar terdengar suara teriakan tuan Penderghast. Kami berlari menuju sebuah lorong. Mengikuti lorong tersebut dan berhati-hati untuk tidak mendekati mayat tersebut. Suara itu berakhir di dalam ruangan yg luas, namun kosong tanpa isi.

"Sayang, bagaimana kalau kita sudahi perjalanan hari ini? Aku dan Lotus sudah capek dan harus beristirahat" bujuk Florence. Sebenarnya aku keberatan. Tapi Florence ada benarnya juga. Kami sudah terlalu capek dan harus beristirahat. Kami lalu mendirikan tenda lalu tidur. Beberapa jam kemudian aku mendengar suara erangan kesakitan. Dan suara minta tolong juga samar-samar terdengar. Aku mengintip keluar dan kaget ketika melihat.. Mayat-mayat hidup!

Bersambung

Misteri Kota Tua.. Part 5


Seperti yg sudah direncanakan. Aku pergi ke kediaman Felix, tetua di kota ini. Menurut informasi dari Thomas dan tuan Penderghast, Felix sangat serius dan tidak suka berbasa-basi. Jadi aku harus berhati-hati berkomunikasi dengan dia. Pagi-pagi sekitar jam 09.00 aku sudah berada di depan pagar rumahnya. Rumahnya terlihat sangat tua, di beberapa sisi rumah sudah ditumbuhi tanaman rambat. Pohon-pohon tertata rapi dan rumput liar tumbuh cukup tinggi. Aku melewati pagar rumahnya yg berwarna kelabu itu dan berjalan menuju pintu rumahnya. Aku mengetuk pintunya 3 kali dan mendengar suara, "Silahkan masuk" dari Felix. Aku putar gagang pintu tersebut dan memasuki rumahnya yg mewah, namun terkesan sederhana. Setelah memasuki rumahnya, aku memberikan buah-buahan dan sayur mayur yg sudah kusiapkan sebelumnya. Dia menerimanya dan menaruhnya di sebelahnya.

"Iya, ada masalah apa?" kata Felix dengan ramah. Aku menceritakan semua kejadian-kejadian ganjil yg aku alami. Tak lupa aku ceritakan tentang kematian kolegaku, Nikolai. Felix tampak sesekali menganggukkan kepalanya. Sesekali pula dia mengerutkan dahinya. Setelah aku menyelesaikan kejadian-kejadian ganjil yg aku alami, Felix membuka mulutnya, "Tadi kamu mengatakan bahwa Nikolai memberikan gulungan kertas. Bisakah aku melihatnya?". Aku berikan kertas itu dan melihat Felix membacanya. Setelah dia selesai membacanya, tampak ketegangan di wajahnya. "Apakah kau ingin mengambil harta ini dan menyelamatkan kami?" tanya Felix. Aku mengangguk lalu Felix berbicara dengan wajahnya yg serius, "Baiklah. Temui aku di tengah taman besok. Pada sore hari". Aku mengangguk lagi. Dia lalu mengantarku ke pintu depan. "Jangan lupa bawa beberapa teman, perjalanan kalian akan sangat panjang" pesan Felix. Aku mengangguk dan berjalan menuju rumah tuan Penderghast untuk menemaniku mengambil harta karun tersebut.Tuan Penderghast bersedia menemaniku, bahkan dia menjanjikan akan membawa seorang teman. Setelah memberitahu kapan kami akan bertemu, aku berjalan pulang.

"Bagaimana yah? Apakah ayah mendapatkan suatu petunjuk?" tanya Lotus ketika menyadari kedatanganku. "Sudah dong. Felix akan membantu membukakan gerbang menuju ruang rahasia." jelasku. "Kevin, suamiku. Ayuk duduk di sini. Sudah lama kita tidak bersantai" ajak Florence, istriku yg cantik dan baik hati. Aku duduk di atas kursi kayu dan menyeruput kopi pahit yg sudah Florence sediakan. Hatiku terasa tentram, tenang dan seperti ada perasaan lega. Sudah lama aku tidak merasakan ketenangan seperti ini. Aku melihat Florence yg duduk dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Lalu aku berpaling dan melihat Lotus yg sedang menyirami bunga. Ya, taman rumah kami memiliki berbagai macam bunga. Diantaranya adalah tulip yg sangat disukai Florence. Lotus? Dia menyukai bunga teratai. "Aku sangat menyukai bunga ini. Sangat indah. Namanya juga sama dengan namaku, Lotus" katanya setiap aku tanyakan kenapa dia sangat suka memperhatikan bunga kesukaannya itu.

Hari sudah malam, kami memasuki rumah dan memastikan semua jendela dan pintu terkunci, sedikit bersantai dan beranjak tidur. Setelah aku memakai piyama, aku melihat Florence dan Lotus yg berdiri di depan pintu kamar. " Ayah, kami ingin ikut ayah menuju harta tersebut" kata Lotus sedikit takut-takut. "Apakah kalian yakin? Perjalanan akan sangat panjang dan berbahaya" kataku mengingatkan mereka. "Kita keluarga. Senang dan sedih kita lalui bersama. Kita saling mendukung dan melindungi satu sama lain" Florence berkata dengan bijak. "Hmm. Baiklah, sepertinya aku tidak ada pilihan lain" kataku memutuskan. Lalu mereka tersenyum dan berlari memelukku.

Keesokan harinya (sekitar jam 04.00) kami sudah berkumpul di jantung kota. Tempat dimana patung dewa kematian berdiri dengan kokoh. Felix menyuruh kami untuk sedikit bersantai dan memantapkan niat karena perjalanan ini sangat beresiko. Sembari menunggu jam 06.00 tiba, kami melakukan kegiatan yg setidaknya merilekskan kami. Aku dapat melihat Lotus mengejar kupu-kupu. Florence yg sedang duduk dengan anggun diantara rerumputan dengan kepala mendongak keatas dan menutup matanya. Dia sedang menikmati anugerah tuhan seakan-akan ini adalah saat terakhirnya. Tuan Penderghast ngobrol dengan temannya, Thomas. Iya, Thomas asistenku. Felix sedang mondar-mandir di depan patung dewa kematian tersebut. Sesekali dia berhenti dan memperhatikan patung tersebut, lalu tersenyum dan kembali mondar-mandir. Aku sendiri sedang memikirkan apa yg akan terjadi nanti dan bagaimana aku bisa menjaga diriku dan orang-orang yg akan ikut nanti.

Waktu sudah menunjukkan jam 06.00 malam. Kami berkumpul di depan patung tersebut sementara Felix yg berdiri paling depan sedang membaca mantra. Beberapa saat kemudian kabut mulai turun dan menyelimuti seisi kota. Aku melihat sekeliling. Semua orang yg tadi di sekelilingku mendadak hilang. Di hadapanku, kabut mulai bersibak dan samar-samar aku melihat seseorang. Semakin lama orang itu semakin mendekat. Semakin dia mendekat, semakin jelas pula rupanya. Ternyata orang itu adalah dewa kematian. "Beraninya kau mencoba mengambil harta kami! Apakah kau akan menjadi pahlawan untuk kota ini? Hahahah, aku bahkan tidak bisa  membayangkannya" remehnya. Lalu dia melanjutkan, "Hah! Kau pikir aku akan membukakan jalan untukmu?! TIDAK AKAN!". Aku yg sedari tadi diam saja, memberanikan diri untuk berbicara. "Apa maksudmu menjadi pahlawan?". Dewa kematian itu berbalik dan mengatakan, "Jadi kau belum mengetahuinya ya? Hahahah, pahlawan macam apa yg tidak mengetahui seluk beluk kota yg ingin dia selamatkan? Baiklah, mari kita sedikit bermain. Aku akan membukakan jalan, dan kalian silahkan mencari harta tersebut" dewa kematian menantangku. "Cukup mudah" jawabku dengan rasa curiga. "Hahahah, kau pikir aku akan membiarkanmu lewat semudah itu? Sungguh bodoh! Tentu saja aku akan memberikan ujian untuk kalian. Hahahah!" dewa kematian tertawa dengan suaranya yg sangat mengerikan. Baru inginku tanya ujiannya berupa apa, dewa tersebut terbang menembus badanku. Lalu aku jatuh pingsan.

"Kevin! Suamiku! Bangun!" suara Florence samar-samar terdengar dan menyadarkanku. Aku dapat merasakan tangan halusnya menampar pelan pipiku. Aku membuka mataku dan memfokuskan pandanganku. Semuanya menatapku dengan penuh rasa prihatin. "Apa yg terjadi?" aku membuka mulutku dan akhirnya semuanya menghembuskan nafas lega mereka. "Kamu tadi tiba-tiba pingsan. Mukamu sangat pucat, badanmu dingin. Bahkan denyut nadimu hilang. Sesaat kami pikir kamu mati. Tapi syukurlah kamu sudah siuman. Oh iya, saat kamu pingsan, ada pintu rahasia yg tiba-tiba saja terbuka." Thomas menjelaskannya padaku dengan singkat. Aku berusaha berdiri dan menahan rasa sakit di kepalaku dan memerintahkan mereka untuk memasuki jalan rahasia yg tadi terbuka. Aku menyuruh mereka untuk masuk duluan dan menungguku karena aku dipanggil oleh Felix. "Baiklah, aku hanya bisa menemani kalian sampai di sini saja." kata Felix sekalian pamit. " Tunggu, tadi Thomas mengatakan denyut nadiku tidak ada,kan?" tanyaku. "Ya, memangnya ada apa?" tanya Felix. "Berarti saat aku berbicara dengan kematian, aku.. Aku mati"

Bersambung

Misteri Kota Tua.. Part 4


"Apakah kamu yakin, Lotus?" kataku setelah mendengar ide Lotus tentang teka-teki terakhir itu. "Ya, yah. Aku sangat yakin. Hanya di sana ayah bisa menemukan pria bersabit." Lotus mempertegas idenya. Aku segera menelfon Nikolai dan membuat  janji untuk bertemu di tempat yg Lotus katakan. Setelah membuat janji, Florence mengobatiku dan melanjutkan tidur kami. Keesokan harinya, aku menuju tempat yg telah kami janjikan. Aku duduk di atas kursi tua sambil menunggu Nikolai yg sepertinya telat. "Kevin! Kevin! Lihat, aku menemukan sesuatu di balik kertas ini" kata Nikolai berlari kearahku sambil melambaikan kertasnya yg menjadi lebih tipis. "Lihat, kertas ini ternyata di-double dan di rekatkan dengan kertas lainnya" Nikolai berbicara dengan semangat menggebu-gebu. Aku melirik kertas itu dengan seksama. Aku hanya melihat tulisan-tulisan yg tidak bisa aku mengerti. Sepertinya itu adalah bahasa kuno yg dulunya dipakai di kota ini. "Menurutku, ini adalah bahasa kuno yg dipakai di kota ini. Tetapi anehnya, aku tidak bisa menemukan tata bahasa ini di buku manapun." Nikolai menjelaskan. Aku mengangguk dan berkata, "Kita acuhkan saja dulu. Bisa saja ini semacam jebakan". Kami sengaja bertemu sore hari dan menunggu sampai malam. Karena, di saat itulah kota ini hidup. Tak terasa, malampun menyelimuti kota ini. Jalanan yg sepi menambah kesan angker di kota ini. Dan di sinilah kami. Di jantung kota yg terdapat patung dewa kematian yg sedang memegang sabit. Sabit panjang yg menjadi icon dari dewa kematian.

Kami mencari cara untuk berkomunikasi dengan patung ini. Kami memulainya dengan hal dasar seperti, "Hai" atau "Halo"  tapi tidak ada reaksi. Lalu kami mencoba untuk mencari sesuatu seperti tombol rahasia atau semacamnya. Hasilnya tetap. Nihil. Tidak habis akal, kami menocba sesuatu seperti, "Bangkitlah!!" sampai "Bangunlah wahai dewa kematian" tapi hanya keheningan malam yg kami dapatkan. Kami sudah kehabisan akal. Kami menduduki kursi tua itu dan tiba-tiba mendengar suara tawa yg mengerikan. Suarau tawa itu tidak bersumber pada satu orang. Tetapi banyak orang. Tawa itu membuat kami menutup telinga kami dan berusaha lari ke rumah masing-masing. Tetapi rumah Nikolai terlalu jauh, sehingga aku memaksa Nikolai untuk menuju rumahku saja. Kami berlari sekencang yg kami bisa. Tiba-tiba burung gagak jatuh di hadapan kami. Kami berhenti dan mendongak ke atas. Kami bergidik ngeri melihat rombongan gagak terbang mengitari kota tua ini. Dan beberapa di antara mereka jatuh tak bernyawa. Pot-pot bunga penduduk kota bergetar hebat dan angin berhembus kencang sehingga menyusahkan kami untuk fokus berlari ke rumahku. Suara tawa itu terdengar semakin nyaring, semakin mengerikan. Keringat dingin membasahi keningku dan rasa takut menjalari sekujur tubuhku. Tetapi kami tetap saja berlari sekencang yg kami bisa. Tiba-tiba tawa itu berhenti. Angin berhneti berhembus dan pot bunga berhenti bergetar. Tampak seseorang berpakaian serba hitam berdiri di hadapan kami. Wajahnya tertutupi topinya yg besar. "JANGAN AMBIL HARTA KARUN ITU ATAU KALIAN AKAN MATI!" orang itu berkata. Dia melepaskan topinya dan berteriak. Wajahnya yg sangat buruk membuatku takut. Dan teriakannya yg nyaring memekakkan telingaku. Aku menarik pundak Nikolai dan menyeretnya menuju rumahku. Teriakan itu berhenti secara tiba-tiba. Dan yg selanjutnya terjadi adalah, Nikolai terhempas secara tiba-tiba dan pohon bambu menusuknya tepat di perutnya. Aku berteriak dan berlari kearahnya. Aku mencengkram bajunya. Dia terlalu lemah untuk berbicara. Dia mengambil kertas di kantong bajunya dan memberikannya padaku. Dia tersenyum dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Aku mengambil gulungan kertas itu dan tiba-tiba terhempas dan menabrak dinding di belakangku. Orang yg memakai baju hitam itu menghampiriku dan mengulurkan tangannya untuk mencekik leherku. Aku menghempaskan tangannya dan berlari. Dan akhirnya aku berhasil memasuki rumahku.

Rasa lemas, takut dan sedih bercampur. Aku sudah terlalu capek mengurusi hal-hal seperti ini. Aku sudah menyerah. Aku tak tahan lagi. Disaat aku menceritakan ini ke keluargaku. Lotus berdiri menghampiriku dan memelukku. Sedangkan Florence mengelus kepalaku dan berkata, "Kamu pasti bisa. Dan kami akan selalu mendukungmu apapun yg terjadi" , "Iya, yah. Sekarang bisakah ayah berikan gulungan kertas itu lalu beristirahat sedangkan aku dan ibu berusaha memecahkan kode ini?". Aku mengambil gulungan kertas itu di kantong celanaku dan memberikannya pada Lotus, putriku yg cantik dan cerdas. Lalu Florence berdiri dan mengulurkan tangannya. Aku ulurkan tanganku dan berdiri. Florence lalu menuntunku menuju kamar. Dia mengecupku dan pergi menemui Lotus. Aku sangat bangga dengan keluargaku. Mereka tetap mendukungku meskipun aku telah meletakkan mereka ke dalam kota tua yg mengerikan ini.

Keesokan harinya aku terbangun dan menemukan Florence berdiri di sisi kasur. Dia tersenyum melihatku lalu memelukku. Aku merasa aneh dengan pelukan itu. Aku tidak merasakan adanya kasih sayang dipelukan itu. Semakin lama pelukan Florence semakin erat. Aku merasa tercekik dan sedikit mendorong Florence untuk menandakan bahwa aku merasa sesak. Tetapi pelukan itu malah semakin erat dan aku merasa semakin sesak. Semakin kesulitan bernafas. Aku berusaha keras untuk melepaskan pelukan yg menyakitkan itu. Tetapi pelukan itu semakin kuat dan membuatku semakin lemas. Florence berbisik pelan di telingaku, "mati kau" dan mempererat pelukannya. Aku menjadi semakin lemas dan tak bertenaga. Mataku berkunang-kunang. Nafasku sesak. Pada detik-detik kematianku, Seseorang menghantam Florence dengan vas bunga. Dia pingsan dan aku langsung mendorongnya. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berusaha memfokuskan mataku. "Sayangku, apakah kau tidak apa-apa??" Florence memelukku. Aku bisa merasakan kasih sayang di pelukan itu. Dan aku merasakan rasa cemas dipelukan itu. "Tunggu, kalau ini kamu. Lantas, siapa yg memelukku tadi" tanyaku. Aku melirik "Florence" yg pingsan tadi dan menemukan paras cantik Florence, menjadi nenek tua yg sangat menyeramkan. Dia tertawa, lalu mengambil pecahan kaca dan berusaha menusuk kami dengan itu. Kami mundur dan terus mundur hingga kami menabrak dinding. Nenek itu semakin mendekat dan mengayunkan tangannya. Kami berpelukkan. Tetapi yg selanjutnya kami dengar adalah teriakan kesakitan yg mengerikan. Aku membuka sebelah mataku dan melihat nenek itu terbakar dan menghilang.

"Pergi kau, setan!!" teriak Lotus. Dia sedang memegang sebuah botol. "Apa isi dari botol itu, nak?" tanya Florence. "Aku barusan melihat ruang kerja ayah. Lalu aku mendengar suara pecahan kaca dan tawa nenek itu. Aku melihat-lihat sekitar dan melihat ada botol bertuliskan 'air suci'. Tanpa pikir panjang, aku ambil dan berlari ke kamar ini dan menyiramkan air suci ini." jelas Lotus. "Aaah, ibu sangat bangga padamu, nak" kata Florence sambil memeluknya. "Oh iya. Ayah, sepertinya aku tahu siapa yg harus ayah hubungi" kata Lotus sambil mengambil secarik kertas dan memberikannya padaku.

Nama : Felix
umur : 98 tahun
Tinggal: Rumahnya tepat berada di hadapan patung dewa kematian
Diketahui sebagai: Tetua kota ini

Lotus benar, aku harus menghubungi Felix dan menanyakan apa yg terjadi. Dan tentu saja menanyakan arti dari tulisan yg diberikan Nikolai.

Bersambung


Misteri Kota Tua.. Part 3


Setelah kejadian malam itu, kehidupan kami menjadi tidak tenang. Ketakutan kami adalah alasan utamanya. Bagaimana tidak? Kami hampir saja mati. Tetapi, aku tetap bersyukur. Bersyukur karena Florence dan Lotus tetap menyayangiku. Aku sempar berpikir mereka akan marah padaku karena hampir membunuh mereka dan memberi mereka ketidak tenangan yg berketerusan. Aku bangga dan makin menyayangi keluargaku.

Siang ini, aku berencana untuk membeli kaca untuk mengganti kaca yg Florence pecahkan untuk membuat jalan masuk ke dalam rumah. Setelah aku sampai ke toko kaca,  aku bertemu dengan tuan Penderghast. "Hei, aku mendengar apa yg terjadi tadi malam." dia berbicara dengan lemah lembut tanda prihatin. "Kenapa kau tidak mengatakan hal ini sebelumnya? Mengapa kau tidak memperingatiku sebelumnya?"  tanyaku, marah. "Tidak bisa, kami tidak bisa membicarakan hal itu. Atau kami akan mati" . "Penjelasan itu masuk akal juga" benakku. "Kalau kamu ingin lebih jelasnya, bicarakanlah hal ini dengan Nikolai" tambah tuan Penderghast. Ah, iya! Diakan turis di sini. Kenapa tidak terpikir olehku? "Baiklah. Aku akan ke tempat Nikolai setelah membenarkan kaca di rumahku". Setelah membeli dan memasang kaca, aku pergi ke rumah Nikolai dan berbincang padanya.

"Hey Kevin. Aku sungguh minta maaf atas apa yg terjadi semalam. Aku tidak bis..." , "Aku sudah tau. Kalian akan mati jika kalian bicarakan" potongku. Dia menutup rapat mulutnya. Keheningan terjadi selama beberapa menit hingga akhirnya dia mempersilahkan aku masuk. Aku memasuki rumahnya dan duduk di sofa ruang tamunya. "Kevin, aku tahu kamu ingin keluar dari kota ini. Tapi kau harus membantuku. Apakah kamu mau?" tanyanya.  "Baiklah. Apa yg harus aku lakukan?" tanyaku. Lalu Nikolai menjelaskan kalau kami baru bisa keluar dari kota ini setelah kami mendapatkan harta karunnya. Ternyata harta karun itu bukan saja menyimpan harta dan emas yg sangat berharga. Tapi juga merupakan tempat roh-roh jahat bersemayam. Dengan kata lain, jika harta karun itu diambil, roh-roh jahat akan tersegel dan tidak bisa mengurung orang-orang di kota ini lagi. Aku mendengarkannya dengan seksama dan akhirnya memutuskan untuk mencari harta tersebut dan melupakan resikonya.

Keesokan harinya, pagi-pagi kami sudah berkumpul di hutan. Kami sengaja datang pagi-pagi (sekitar jam 06.00) supaya kami memiliki waktu yg lebih lama untuk memecahkan kode demi kode. Setiap hari kami berkumpul jam 06.00 pagi dan pulang jam 04.30 untuk menghindari pulang kemalaman. Dan ternyata hal itu berhasil dan sangat membantu. Hari demi hari kami jalani dengan memecahkan kode demi kode. Teka-teki demi teka-teki. Hingga suatu hari kami duduk termenung. Kebingungan. Teka-teki terakhir yg harus kami pecahkan. 
"Rahasia-rahasia yg hanya diketahui pria bersabit"
Itulah yg tertera di secarik kertas. Sudah berjam-jam kami duduk dan memikirkan apa maksudnya. "Aaah! Mungkin para petani tidak? Mereka biasanya menggunakan sabit" kata Nikolai bersemangat. "Tidak, di sini tidak ada petani" jawabku. Tak terasa sudah jam 04-30 saja. Kami memutuskan untuk pulang dan bertemu lagi seminggu kemudian untuk memikirkan apa maksud dari teka-teki tersebut.

Sesampainya di rumah, Lotus menghampiriku dan bertanya, "Apakah kalian sudah mendapatkan hartanya?" , "Belum. Tinggal memecahkan teka-teki terakhir dan akhirnya kita bisa pulang." jawabku, lesu. "Emang apa teka-teki terakhir itu, yah? Mungkin aku bisa membantu" tawar Lotus. Aku tertawa dan mengelus kepala lotus. "Tidak, kamu sudah banyak membantu ,Lotus." kataku. Memang, sebagian besar teka-teki itu dipecahkan oleh Lotus. Dan sebagiannya lagi istriku, Florence. Sedangkan aku dan Nikolai, hanya sebagian kecil. "Tidak yah. Aku sangat ingin membantu. Sungguh" Lotus semakin semangat. "Baiklah, panggil ibumu dan suruh dia untuk berkumpul di ruang keluarga." perintahku. Lotus berlari kecil menuju dapur, sedangkan aku menuju ruang keluarga.

Kami sudah berkumpul di ruang keluarga. Lotus sudah duduk manis di sebelah istriku. Aku berdehem lalu menyebutkan teka-teki tersebut. Mereka tampak kebingungan. Bahkan Lotus yg paling pintar dalam memecahkan teka-teki saja sampai mengerutkan dahinya. Aku tertawa kecil dan berkata, "Bagaimana kalau kita istirahat saja dulu. Dan ketika kalian sudah mendapatkan jawabannya, beri tahu ayah". Setelah itu, mereka beranjak dari ruang keluarga dan pergi ke kamar masing-masing. Aku pergi ke kamarku dan mengganti bajuku. "Ayah, berapa lama lagi kita bisa pulang? Aku takut" kata Florence. "Secepatnya. Ayah berjanji." kataku sambil memakai piyama. Lalu aku merebahkan diriku di kasur. Di sebelah Florence, istriku yg kucintai. Aku balikkan badanku sehingga kami tidur saling berhadapan. "Ayah, aku sudah tidak tahan lagi tinggal di kota ini. Aku ingin cepat pulang" Kata Florence dengan mata yg berkaca-kaca. Aku tidak menjawabnya. Aku mengelus pipinya dan memberinya kecupan di kedua pipinya. Dan beranjak tidur.

Tengah malamnya aku terbangun. Aku beranjak dari kasur dan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Aku ambil segelas air putih dan ketika ingin meminumnya, aku melihat sekelebat bayangan putih. Masih memegang gelas tersebut, aku mengikuti bayangan tersebut. Aku dapat merasakan ada angin yg kuat memasuki rumahku. Aku mencari sumber angin tersebut dan menemukan ada jendela yg terbuka di ruang tamu. Aku melangkah mendekati jendela tersebut untuk menutupnya. Ketika aku menutupnya, tiba-tiba muncul nenek tua dengan seringainya yg mengerikan dan teriakannya yg memekakkan telinga. Aku terkejut sehingga gelas yg aku lempar tadi terlempar, lalu jatuh dan pecah. Aku mundur beberapa langkah, tapi aku tidak sengaja menginjak pecahan gelas sehingga aku terjatuh. Tusukan tersebut sepertinya dalam, sampai-sampai aku tidak bisa berdiri. Nenek itu tertawa. Tawanya sangat menyeramkan. Sangat memilukan. Aku menutup telingaku karena suara tawa itu terngiang-ngiang di otakku. Tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakan,"PERGI DAN TINGGALKAN RUMAH KAMI KAU TUA BANGKA!!" terdengar suara teriakan Florence berusaha mengusir nenek itu. Nenek itu terlihat marah, lalu menerbangkan vas bunga ke arah Florence. Aku berusaha berdiri, tapi kakiku masih sangat sakit sehingga aku terjatuh lagi. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki Lotus yg berlari dan mendorong ibunya sehingga Florence terhindar dari lemparan vas tersebut. Florence dan Lotus akhirnya saling berpelukkan. "KALIAN HARUS MATI!" kata nenek itu sambil menerbangkan pisau dapur dan siap-siap melemparkannya ke arah kami. Tapi, tiba-tiba saja ada sekelebat cahaya yg menyilaukan mata kami. Kami menutup mata kami dan ketika kami membukanya, nenek itu menghilang. Florence berlari ke arahku dan mengobati kakiku sedangkan Lotus merangkak mendekatiku dan mengatakan, "Ayah, jawaban dari teka-teki itu adalah.."

BERSAMBUNG

Misteri Kota Tua.. Part 2


Bagian 2
Seminggu sudah berlalu. Aku sudah berkenalan dengan tuan penderghast. Lelaki paruh baya yg cukup mapan di kota tua ini. Perkenalan kami ini dimulai pada hari kamis. Saat itu aku sedang berjalan-jalan sambil memikirkan apa yg salah dengan kota ini. Orang-orang di sini sangat tertutup. Memang, aku sering melihat mereka saling berbicara satu sama lain. Tapi mereka tidak terbuka pada orang baru. Dan di sanalah aku, duduk diam di bawah naungan pohon tua. Angin sepoi-sepoi mengelus kulitku dan seakan mengajakku untuk tidur. "Hei, apa yg kau lakukan di sana?" Tanya tuan Penderghast heran. "Tidak ada. Aku hanya ingin bersantai sebentar." jawabku. Dia lalu duduk di sebelahku dan bercerita banyak hal. Aku mendengarkannya dengan seksama. Tiba-tiba dia terdiam. Aku melihat wajahnya yg tadinya senyum, gembira, sekarang rautnya berubah jadi serius. Ketegangan tampak jelas dari raut wajahnya. "Ada yg ingin aku bicarakan padamu. Tapi tidak di sini. Di sini tidak aman" katanya dengan nada yg cepat dan cemas. Dia mengajakku ke rumahnya yg besar dan megah. Memang sih, dia tadi bercerita tentang pekerjaannya sebagai penambang emas. Dia menutup rapat pintu rumahnya dan mengajakku duduk di sofanya. "Cepat kabur dari kota ini! Kau tidak akan tahu apa yg akan menimpamu. Kota ini di..." Tak sempat dia menyelesaikan pembicaraannya, tiba-tiba lampu ruang tengahnya pecah. Kami kaget. Kami berdua sama-sama ketakutan. Lampu yg  tadinya aman-aman saja, tiba-tiba saja pecah. Padahal lampu tersebut tidak jatuh. Ketakutan, aku pamit pulang dan langsung pergi memasuki rumahku.

Pagi ini aku bangun dengan semangat. Aku mandi sambil menyanyikan lagu-lagu kesukaanku. Setelah itu, aku turun ke ruang makan dan makan yg dimasakkan istriku, Florence. Setelah aku mengecup kening istri dan anakku, aku pergi ke pusat kota untuk bertemu dengan Nikolai dan tuan Penderghast. Kami sama-sama ingin mencari harta karun itu. Setelah kami semua berkumpul, kami pergi ke sebuah bukit yg katanya menyimpan harta karun. Sesampainya di bukit itu, kami bekerja dengan berusaha memecahkan teka-teki yg tertera di kertas kepunyaan Nikolai. Nikolai sangat bersemangat tentang harta ini, dia berkeliling dunia untuk menemukan semua petunjuk untuk menemukan harta ini. Pantas saja Thomas langsung menyuruhku untuk pergi ke kota ini. Biasanya kami pergi ke tempat yg dia informasikan untuk mencari petunjuk. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 5 sore hari. Tuan Penderghast menghampiriku dan buru-buru mengajak kami pulang. Aku ingin menolaknya. Tapi Nikolai ternyata juga menyuruhku pulang. "Jika begini terus, kapan kita akan mendapatkan hartanya?" tanyaku dengan nada sedikit marah. "Aku tahu. Tapi.." Nikolai mendekatiku dan berbisik "kita akan mendapat kesialan jika tidak segera pulang". Akhirnya kami sepakat untuk pulang dan bertemu tiga hari kemudian. tepat jam 6 kami baru sampai ke pusat kota. Nikolai dan tuan Penderghast berlari menuju rumah mereka. Sedangkan aku berjalan santai menuju rumah. Ternyata aku membuat kesalahan fatal.

Aku berjalan santai di sekitar taman. Perhatianku teralihkan ketika aku melihat wanita cantik berbaju putih berjalan di depanku. Aku berjalan cepat mengikutinya. Dia tersenyum menggodaku. Seakan tersihir, aku mengikutinya. Dia berjalan dibalik pohon. Aku berjalan menuju pohon itu. "Hei, kenapa kamu belum pulang?" tanyaku sambil mengitari pohon itu. Aku baru saja ingin mengajaknya pulang bersama, tapi aku dikejutkan dengan apa yg aku lihat di balik pohon itu. Wanita cantik berubah menjadi nenek-nenek dengan wajah yg menyeramkan. Satu matanya bolong mengeluarkan darah. Mulutnya terjahit rapat. Aku mundur beberapa langkah, tapi nenek itu mengikutiku. Dia berbicara tanpa menggerakkan mulutnya, "Kenapa kau tidak mengikuti saran teman-temanmu? Apakah kau tidak tahu kalau kau sedang melakukan kesalahan fatal?" aku membalikkan badan. Berencana untuk melarikan diri. Tapi ketika aku berbalik, nenek itu berada tepat di depan wajahku. Aku terjatuh. Nenek itu tertawa dan pergi menjauh. Aku berdiri dan berlari menuju rumahku. Di tengah perjalanan, aku mendengar nyanyian. Nyanyian yg berasal dari boneka-boneka yg tergantung di pohon itu. "Lalalala. Dia berlari menuju rumahnya. Tetapi itu sia-sia sajaa." Nyanyian itu terdengar sangat mengerikan di telingaku. Semakin lama nyanyian itu semakin keras dan nyaring. Jantungku berdegup kencang. Tiba-tiba aku mendengar bisikian di telingaku, "Kau pikir kau bisa lari begitu saja?" aku tidak memperdulikan suara itu. Rumahku sudah di depan mata. Aku sangat lega ketika aku melihat rumah itu. Tapi kesenanganku dikacaukan dengan pot bunga yg tiba-tiba terlempar. Secara spontan, aku berbelok menuju gang kecil. Aku berlari, dengan cepat. Beberapa pot bunga gantung berjatuhan di belakangku. Aku berlari, berniat untuk berbelok ke jalan menuju rumah. Beberapa langkah lagi aku dapat berbelok. Tapi gerobak dorong terbang kearahku. Aku menundukkan kepalaku dan meneruskan berlari. Sudah dekat gerobak itu denganku, tetapi seseorang menarikku sehingga aku terhindar dari gerobak itu.

Ternyata Lotus yg menyelamatkanku. Aku peluk Lotus dengan erat. "Sayaaang!! Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Florence terengah-engah menghampiriku. "Cepat! Cepat menuju rumah!" Teriakku. Aku lalu berlari secepat yg aku bisa. Beberapa kayu tiba-tiba terhempas dan terlempar kearah kami. Aku menarik Florence dan Lotus untuk menghindari kayu-kayu itu. Lalu kami berlari lagi. "AAARGH!! KENAPA KAU TIDAK MATI!!" teriakan nyaring itu membuatku semakin takut. Burung gagak tiba-tiba jatuh di depan kami. Tapi itu tidak menghentikan langkah kami untuk berlari. Rumah sudah di depan kami, tetapi pintu pagar terbanting menutupi jalan masuk. Kami terpaksa memanjat pagar karena usahaku membuka pintu itu sia-sia. Lotus berusaha membuka pintu tetapi pintu itu terkunci dari dalam. Florence mengambil batu dan melemparkannya ke kaca rumah. Kami sama-sama membersihkan kaca-kaca itu dan masuk melewati jendela. "Ayah, kita pulang saja" kata Florence dengan raut wajah takut. Aku meng-iyakan dan kami langsung mengemas baju2 kami dan memasuki mobil. Aku hidupkan mobil dan menabrak pintu pagar. Aku kebutkan mobil tapi mobil itu tiba-tiba mati dan berhenti di tengah pohon tua tempat boneka-boneka bergantung. "Kau pikir kau bisa lari begitu saja?? Hah! Tidak akan ku biarkan!" Nenek itu tiba-tiba muncul di hadapan kami dan menghancurkan mobil kami. Kami keluar mobil dan berlari melewati nenek itu. Tetapi boneka-boneka itu terjatuh dihadapan kami dan tertawa. Tawa itu terdengar sangat menakutkan. Kami saling berpelukkan dan menjauh dari tempat itu. Aku menyuruh Florence dan Lotus untuk berlari masuk rumah. Mereka membalikkan badan dan berlari memasuki rumah. Sedangkan aku mengambil koper dan berlari memasuki rumah. Kami berpelukkan dan menenangkan diri.

Bersambung

Misteri Kota Tua.. Part 1


Namaku Kevin. Aku tinggal di perumahan elite dan tinggal bersama istriku, Florence dan putriku, Lotus yg sedang berumur 13 tahun. Aku bekerja sebagai pemburu harta karun. Sebenarnya, istriku sudah melarangku untuk bekerja dibidang itu. "Ayo lah ayah. Itu berbahaya." , "Itu bukan bahaya. Itu tantangan" kataku mengelak. Istriku hanya menghela nafas dan pergi begitu saja. Jika kalian ke rumahku, kalian akan melihat banyak benda antik. Tentu tidak semua benda antik aku simpan. Beberapa diantaranya aku jual dan mendapat keuntungan besar. Permata dan emas yg paling banyak aku jual. Benda seperti itu sudah tak dapat dihitung lagi di rumahku.

Pagi ini aku mendapat tugas berburu harta karun yg tersimpan di suku pedalaman Afrika. Aku sangat senang ketika mendapat tugas itu. Aku langsung menelfon temanku yg kebetulan bekerja sebagai penjual tiket pesawat (resmi), dan membooking pesawat untuk hari minggu. Sebagai pemburu harta karun, aku mempunyai banyak teman di seluruh dunia. Jadi, aku telfon temanku yg di Afrika sana dan meminta dia untuk memesan kamar tidur di hotel dan transportasinya. Aku menyuruh istri dan putriku untuk bersiap-siap ke Afrika. Istriku menghela nafasnya dan berjalan lunglai untuk bersiap-siap. Aku mengerti perasaan resah itu. Aku menghampirinya dan berbicara padanya, "Ayolah sayang. Ini tidak akan terlalu buruk. bujukku. "Hanya saja, semua yg kamu kerjakan terlalu berbahaya. Hampir setiap kamu hampir menemukan harta karun itu, kamu hampir mati. Aku sayang padamu, aku ingin kamu selamat dan hidup bahagia. Disini, di rumah ini." mendengar perkataannya, aku tersentuh. "Baiklah, biarkan aku mendapatkan harta ini. Harta karun terakhir ini, dan kita akan hidup tanpa berburu harta karun lagi." kataku mencoba menenangkannya. Dia tersenyum dan berkata, "Baiklah. Tapi aku ingin menjadi janji.", Aku tersenyum dan berjanji padanya.

Hari minggu tiba, dan perjalanan ke Afrika sangat lancar. Aku bertemu temanku, Thomas di sana dan dia mengantarkan kami ke tempat dimana kami bisa merental mobil dan akhirnya beristirahat di penginapan. Keesokan harinya, kami menuju ke tempat yg tertera di peta (yg aku dapat dari perkumpulan pemburu harta tentu saja). Sungguh, ini perjalanan yg sangat panjang dan melelahkan. Terutama karena jalanannya yg jelek dan kami sempat tersesat. Setelah kira-kira 12 jam kami menaiki mobil, akhirnya kami menemukan desa ini. Desa yg terpencil dan menyeramkan. 2 buah pohon yg sangat tua dan besar menjadi gerbang menuju desa itu.Di pohon itu pun banyak boneka yg menggantung. Ada yg kepalanya lepas, ada yg hanya kepalanya saja tergantung, ada yg utuh dan bermacam lainnya. Lotus, putriku sangat ketakutan melihat itu semua. Istriku menyadari ada yg aneh. "Ayah, aku merasa sepertinya boneka-boneka ini memperhatikan kita." aku mendongak dan membelalak melihat boneka-boneka itu mengarah kemana kami pergi. Seperti memperhatikan kami. Aku menghapus semua anggapan buruk dan terus memasuki desa ini. Setelah kami memasuki jantung desa, aku memberhentikan langkahku dan melihat sekeliling. Patung dewa kematian yg terbuat dari perunggu berdiri kokoh, bangunan-bangunan bergaya kuno juga berdiri megah. Ini tidak seperti desa, tapi kota tua yg terlupakan. Menurut buku yg aku baca, penduduk kota tua ini semua menggunakan bahasa inggris. Untung saja, aku tidak perlu membuka kamusku atau mencari translator untuk berkomunikasi.

Aku sedang menunggu asistenku, Thomas. Dia yg mencarikan tempat tinggal kami dan mengenalkan kami ke orang-orang penting (seperti tetua di kota ini). Baru saja aku memutuskan untuk duduk di kursi tua, seseorang yg memakai jubah dan topi hitam menghampiriku dan berbisik, "Jangan ambil harta itu atau jiwa-jiwa akan terbebas." bisiknya. Aku membalikkan badan untuk berbicara padanya, tapi dia sudah menghilang. "Jiwa-jiwa akan terbebas? Apa maksudnya?". Aku memandangi Florence yg sibuk membaca novelnya dan Lotus yg sedang bermain dengan Ipodnya sambil mendengarkan lagu. "Hey, apakah kalian sudah lama menunggu?" tanya Thomas yg mengacaukan lamunanku. "ah, tidak. Baru saja sampai" kataku sopan. Kami mengikuti Thomas ke rumah tempat kami tinggal. Rumah yg kebetulan dekat dengan 2 pohon yg digantungi boneka-boneka itu. Ketika kami sampai, aku memandangi halamannya. 2 pohon cemara berdiri kokoh di sisi taman. Daun pucuk merah menjadi pagar rumah kami. Kami memasuki rumah itu, Banyak sekali barang-barang antik di dalamnya. Barang-barang yg tidak akan kalian temukan di toko barang-barang antik. Percayalah, aku sudah mengeceknya. "Ini Dwayne, pemimpin kota ini dan ini istrinya, Rebecca." Thomas memberikan foto dan biodata mereka. "Dan ini nikolai, turis dari Russia. Dia juga sedang mencari harta karun. Dan jangan lupakan Felix. Dia tetua di kota ini." aku mengambil foto dan biodata mereka dan menyimpannya di box kecil.

Aku memutuskan untuk beristirahat selama seminggu untuk berbaur dan mengenali kota ini. Jujur saja, aku merasa aneh tinggal di kota ini. Kau tahu, boneka-boneka itu dan patung dewa kematian itu. Semuanya seperti menyimpan sesuatu yg janggal. Bukan, kota ini yg menyimpan sesuatu. Tengah malam aku dibangunkan oleh teriakan anakku, Lotus yg teriak histeris. "Aku melihatnya!! Aku bersumpah! Bayangan itu mencekikku dan menyuruhku pergi dari kota ini!" kata dia dengan wajahnya yg pucat. Aku mendengarkannya dan memeluknya. Dan aku menenangkan dia. Setelah memastikan bahwa itu hanya perasaannya saja, aku dan istriku kembali tidur. "Ayah, apakah ayah yakin kita akan aman di sini?" kata istriku cemas. Aku membelai rambutnya dan berbisik, "Aku yakin semua akan baik-baik saja." lalu mencium keningnya.

Paginya, aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Suasana kota tampak suram. Beberapa bangunan sudah dijalari tanaman rambat, jalanan juga sudah dijalari tanaman rambat. Banyaknya pepohonan tua menambah kesan suram di kota ini. Aku berjalan melewati taman dan duduk di kursi. Aku mengambil buku journalku dan menulis keadaan kota. Selesai menulis, aku memandang lurus kedepan dan menyadari bahwa ada yg sedang memerhatikanku. Aku sipitkan mataku, berharap untuk bisa melihat lebih fokus. Tetapi dia menghilang setelah gerobak melewatinya. Hari semakin gelap. Dan aku lihat arlojiku, sudah menunjukkan jam setengah enam. Aku melihat sekeliling. Orang-orang berlalu-lalang buru-buru memasuki rumah mereka. Bahkan ada yg berlari ataupun menaiki kuda. Aku merinding. Rasa takut dan bingung bergerumul di otakku. Aku memutuskan untuk berjalan cepat ke rumah. Tetap jam 6 aku memasuki halaman depan rumah. Tepat ketika aku ingin memutar gagang pintu, aku mendengar bisikan pelan, "Satu persatu orang-orang memasuki rumahnya. Dan satu orang masih kebingungan." Aku membalikkan badan dan memfokuskan mataku ke boneka-boneka itu. Semua boneka itu memutar kepalanya dan seolah-olah memperhatikanku. Tiba-tiba saja burung gagal jatuh tepat di depan rumahku. Tubuhnya terbujur kaku, paruhnya membuka dan matanya masih terbuka lebar. Aku buru-buru masuk rumah dan menemui keluargaku. Ada yg salah dengan kota ini. Kota ini.. Dikutuk

BERSAMBUNG

Last Song For Nina


Namaku Nina hoppkins. Anak dari James hoppkins dan Mary hopkins. Aku bersekolah di SMA terfavorit di England, mengikuti ekskul cheerleaders dan kalau dilihat dari segi prestasi, kalian bisa melihat nilai A+ di berbagai pelajaran di dalam raporku. Terang saja, ayahku lulusan dari sekolah Harvard dan mempunyai IQ 180+ dan ibuku lulusan Princeton dengan nilai sempurna. Banyak orang yg iri dengan bentuk fisik dan kecerdasanku. Dengan rambut pirang, tubuh yg tinggi, kulit yg putih mulus dan paras yg cantik, tak heran jika orang-orang disekelilingku iri denganku. Semua terjadi dengan sempurna dan tidak kurang suatu apapun.

Kecuali bagian dimana orang tuaku tidak selalu ada dalam kehidupanku. Bahkan di hari ulang tahunku. "Kamu harus belajar hidup mandiri, Nina." adalah kata-kata yg selalu diucapkan oleh kedua orang tuaku ketika aku mengeluh. Tetapi aku tidak bisa melawan, bagaimanapun juga mereka adalah orang tuaku.

"Nona, ayuk makan. Makan malam sudah saya siapkan" kata Cossete, pembantuku yg selalu ada di saat aku sedih maupun senang. Bahkan, aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri. Dia lebih muda satu tahun dariku dan satu sekolah denganku. Cossete juga sebenarnya adalah anak yg anggun dan manis. Hanya saja dia lebih suka memakai pakaian yg terkesan sederhana dan biasa saja.

"Tidak, aku sedang tidak berselera" jawabku sedikit lemas. "Tapi, beberapa hari ini nona makan sedikit sekali. Apakah nona sedang sakit" katanya sambil memegang keningku. "Tidak, aku tidak apa-apa. Bagaimana kalau kamu mengurangi sedikit porsinya dan bawa lagi kesini?" , "Baiklah nona. Sebentar ya, biar saya siapkan dulu"  lalu Cossete berlari kecil menuju dapur. Memang beberapa hari ini aku tidak berselera makan. Tidak tahu kenapa, tetapi seperti ada sesuatu yg melarangku untuk makan. "Ini nona, sudah saya kurangi porsinya. Selamat menikmati" kata Cossete yg lalu keluar dari kamarku. Aku memakan makanan itu sampai habis. Tak kusangka ternyata aku sangat lapar, dan bahkan setelah aku menghabiskan makanan itu, aku masih merasa lapar. Aku beranjak dari kasurku dan meminta makanan lagi. Tetapi tiba-tiba saja perutku terasa sakit dan merasa seperti ada sesuatu yg akan di keluarkannya. Piring yg tadi aku pegang-pun jatuh dan aku tertunduk kesakitan. Aku lalu terbatuk-batuk dan berusaha untuk memuntahkan sesuatu yg ada di mulutku. "Nona, suara apa tad.. Ya ampun!! Nona tidak apa-apa?!" kata Cossete panik. Sedangkan aku masih tertunduk dan terbatuk-batuk. Perlahan-lahan ada seusatu yg keluar dari tenggorokanku dan, "Kling" benda itu keluar dari tenggorokanku bersamaan dengan darahku. Dan akupun sangat terkejut melihat sebuah paku keluar dari tenggorokanku. Cossete berteriak ketakutan dan buru-buru menelfon ambulans.

Ambulanpun datang tidak lama setelah itu. Dan kebetulan papaku baru pulang dari kantornya. Aku dapat melihat wajah paniknya saat dokter memeriksa keadaanku. Lalu dokter mengambil sampel darah dan urine-ku untuk di cek. Beberapa hari kemudian aku menuju rumah sakit dan bertemu dengan dokter yg memeriksa keadaanku. Anehnya, dokter mengatakan bahwa tidak ada yg salah dari diriku. Dan aku sangat sehat sekali. Dokter memberiku antibiotik dan menyuruhku untuk beristirahat.

Aku pulang dari rumah sakit dan melihat ibuku yg menungguku dengan cemas. Ke-2 orang tuaku menuntunku ke kamarku dan menyuruhku untuk meminum antibiotik dan menyuruhku untuk tidur. Aku tertidur dengan sanag lelap. "Kriiing! Kriiing!" bunyi alarm membangunkanku. Aku matikan alarm itu dan menghidupkan lampu. Dan aku sangat terkejut ketika melihat barang-barangku berserakan, wallpaper kamarku penuh dengan bekas cakaran dan beberapa barangku yg pecah. Pintu kamarku terbuka secara perlahan dan aku melihat ke-2 orang tuaku dan Cossete yg melihatku dengan tatapan takut, cemas dan aku melihat wajah ibu dan Cossete yg memerah seperti habis menangis. Aku membuka mulutku untuk berbicara, tetapi aku tidak bisa mengeluarkan suaraku. Rasanya seperti aku berteriak selama berjam-jam tanpa henti. Tenggorokanku begitu kering. Lalu aku memberi isyarat untuk seseorang mengambilkanku segelas air. Cossete dengan sigap pergi ke dapur dan mengambilkanku minum. Ibuku perlahan mendekatiku, dan memelukku dengan erat. "Ibu, apa yg terjadi?" kataku sambil menahan rasa sakit di tenggorokanku. "Tenang, duduklah terlebih dahulu" kata ibuku berusaha menenangkanku. Lalu Cossete datang dan menyodorkanku segelas air. Aku minum air itu, dan aku merasa sedikit baikan.

"Ibu, apa yg terjadi?" tanyaku, lagi. "Nina, apakah kamu tidak ingat apa yg terjadi denganmu tadi malam?" , "Tidak, apa yg ku lakukan?" tanyaku dengan cemas. Lalu ibuku bercerita bahwa dia mendengar seseorang ber-sinden dengan bahasa yg tidak dia ketahui. Lalu dia membangunkan ayahku dan mereka lalu menelusuri darimana asal suara itu. Mereka menyadari bahwa suara itu bersumber di dalam kamarku. Mereka buka pintu kamarku dan mereka terkejut melihatku yg langsung menoleh dan tertawa dengan keras. Mereka menyuruh Cossete untuk menelpon seorang pendeta. Selagi menunggu pendeta datang, ayahku berusaha menenangkanku dan menahanku dari merusak wallpaper dan merusak barang-barangku. Dan ketika pendeta telah datang dan meneliti apa yg terjadi denganku. Pendeta mengatakan bahwa aku dirasuki oleh setan, dan dengan persetujuan ke-2 orang tuaku, dia memulai ritual pengusiran setan. Tetapi setan yg berada dalam diriku tidak mau keluar sehingga aku telah mematahkan lengan pendeta itu. Pendeta itu berteriak dan buru-buru menempelkan salib ke leherku. Aku berteriak keras, keras sekali. Pendeta itu lalu menyuruh ke-2 orang tuaku untuk keluar dan membiarkanku sadar dengan sendirinya. Dia lalu berdo'a agar tuhan membebaskanku dari setan yg merasukiku tepat di depanku. Aku berteriak lebih keras dan melemparnya dengan vas bunga yg aku suka sehingga dia pingsan.

Mendengar cerita itu, tentu saja aku sangat terkejut. dan pingsan

Keesokan harinya, aku tidak diizinkan untuk bersekolah. Setelah melambaikan tangan ke orang tuaku, aku duduk di kamarku dan menangis. Menangis karena aku tidak dapat menerima kenyataan bahwa aku telah kerasukan. Di tengah rasa sedihku, tiba-tiba pintu kamarku diketuk. "Masuk" kataku tersendu-sendu. Lalu Cossete memasuki ruanganku dan langsung memelukku. Dia berusaha menenangkanku. Setelah aku merasa sedikit tenang, dia memberiku sebuah kalung. "Ini adalah pemberian nenekku. Berguna sebagai penangkal setan" katanya sambil memasankan kalung itu. Tetapi mendadak aku merasa seperti ada sesuatu yg menggerakkan tubuhku. Aku berteriak keras sekali. Lalu aku mencabut kalung itu dari leherku dan melemparnya. Aku berusaha menahan diriku untuk melakukannya. Tetapi kekuatan yg menguasai diriku sangat kuat sehingga aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Aku menampar Cossete hingga dia jatuh. Ketika aku Ingin melayangkan tinjuku, Ibuku tiba-tiba datang dan memelukku. Aku dapat merasakan kehangatan dari pelukannya. Aku dapat merasakan kasih sayangnya dan dapat merasakan tangisnya. Perlahan aku dapat mengendalikan tubuhku lagi dan memeluk ibuku dengan sangat erat. "Ibu, siapa aku?" tanyaku. "Aku takut ibu" lanjutku. Saat ini, kamarku diisi dengan rasa sedih dan takut.

Mendengar berita bahwa aku kerasukan lagi, ayahku memutuskan untuk memasungku. Aku juga setuju untuk dipasung. Karena aku tidak akan merusak atau melukai orang lagi. Ibuku berhenti dari pekerjaannya untuk merawatku. Setiap pagi, Cossete memasuki ruanganku dan menyuapiku sarapan. Dan setiap pagi juga aku meminta maaf. Dia hanya menjawabnya dengan senyum manis dan berkata, "Tidak apa-apa non. Aku sudah baikan kok, sungguh". Aku sedikit lega mendengarnya, tetapi aku tahu bahwa dia sedang ketakutan. Dan setiap malam aku kehilangan kendali atas tubuhku dan berteriak, memberontak, dan menghentak-hentakkan kepalaku ke dinding kamar. Dan di saat itu ibuku langsung datang dan memelukku. Dia tidak peduli dengan betapa mengerikannya aku saat itu, dia hanya ingin anak semata wayangnya terbebas dari jeratan setan.

Seminggu berlalu, dan satu persatu orang yg berada di rumahku pergi. Supir, tukang kebun, koki bahkan Cossete dan ayahku pergi karena sangat ketakutan. Tetapi tidak dengan ibuku, dia tetap sabar dan merawatku dengan kasih sayang. Saat itu kondisi tubuhku sangat parah. Pergelangan tangan dan kakiku saat itu membiru dan sedikit berdarah. Tubuhku sangat kurus dan tenggorokanku membengkak. Aku kesuliatan untuk berbicara. Tetapi ibuku tidak memperdulikan kondisi fisikku dan terus merawatku.

Hingga suatu malam aku merasa sangat tenang, sangat damai dan merasakan ada angin sejuk bertiup kearahku. Segera aku panggil ibu dan mengatakan, "Ibu, aku merasa sangat tenang dan damai malam ini Dan aku juga merasa sangat mengantuk hingga rasanya aku akan tidur dengan lelap. Bisakah ibu mengabulkan satu permintaanku?" tanyaku. "Apa saja, nak. Apa saja akan ibu lakukan. Apakah kamu ingin dilepaskan dari belenggu ini?" tanya ibuku. Aku menggeleng lemah dan berkata, "Tidak. Aku ingin ibu menyanyikan sebuah lagu untukku. Nyanikan lagu itu sampai aku tertidur". Ibuku mengangguk dan menyanyikan sebuah lagu yg sangat indah dan sangat merdu di telingaku.

"Nina bobo..
Ooh, nina bobo..
Kalau tidak bobo digigit nyamuk..

Tidurlah sayang, Anakku yg manis..
Kalau tidak bobo digigit nyamuk.."

Itulah lagu yg dia nyanyikan untukku. Mataku terasa berat, dan aku tertidur..
Tidur untuk waktu yg sangat lama.
Tidur untuk selamanya..

TAMAT