Wednesday, May 8, 2013

This Little Town.. Part 1


Namaku Scott. Umur 35 tahun, tidak punya istri. Aku mempunyai kulit yg sedikit coklat karena pekerjaanku sebagai detektif menuntutku untuk terus berjalan di teriknya matahari. Banyak wanita yg menyukai rambutku yg dipotong cepak dan mataku yg berwarna hijau. Aku juga termasuk kategori workaholic. Mungkin itu salah satu alasan mengapa aku belum punya istri. 

Malam itu, aku pulang ke apartemenku yg berada di lantai 12 dan menyeduh segelas kopi. Setelah itu duduk di sebuah sofa empuk berwarna hitam dan melihat sekeliling. Ruangan yg diberi permainan cat hitam dan putih, beberapa sofa dengan warna abu-abu dan hitam dan beberapa furnitur yg ber-nuansa antik selalu membuatku tenang. Entah kenapa, tetapi aku suka melihat ruang apartemenku sendiri.

Setelah sedikit menjernihkan pikiran, aku beranjak ke tempat tidur, mengganti pakaian dan tidur. Tepat jam 07.00 aku terbangun karena mendengar seseorang mengetuk pintuku. Setelah cuci muka, aku membukakan pintu dan mendapati Karen, asistenku yg setia. Karen ini orang yg sangat cantik dan baik. Rambutnya yg selalu dikucir kuda dan mukanya yg cantik merupakan daya tarik tersendiri untukku.

"Kasus baruuu" katanya sambil menyodorkan berkas dengan nama "Marius pontmercy" tertera di pinggiran berkas. "Orang dari Perancis?" tanyaku. "Iya, kasus pembunuhan" jawab Karen. Aku mengambil kertas itu dan membacanya. Setelah membaca berkas itu dan mengambil beberapa informasi yg diberitahu Karen, aku beranjak mandi dan berganti dengan jas. "Karen, kau mau ikut atau tidak?" tanyaku. "Tentu saja, pakai mobilku saja"

Setelah sampai di tempat kejadian dan mengambil beberapa informasi, aku mendapati beberapa tersangka. Tapi tentu saja aku tidak bisa langsung menuduh mereka, aku harus menelitinya lebih dalam lagi. Alhasil aku dan Karen kembali ke kantor dan melakukan sedikit diskusi. Keesokan harinya aku melakukan sedikit ekspedisi dan memata-matai beberapa tersangka. Lalu hari-hari selanjutnya aku lanjutkan dengan meng-interogasi mereka, mengambil beberapa bukti dan akhirnya aku mendapatkan satu tersangka. Keesokan harinya aku menginterogasinya dan membawanya ke persidangan dan menyelesaikannya saat itu juga. Itulah pekerjaanku selama 10 tahun ini. Walaupun terlihat sulit, tapi jujur saja. AKu menikmati pekerjaan ini.

Biasanya, setelah aku menyelesaikan satu kasus, aku dan Karen akan pergi ke apartemenku untuk merayakannya. Dan itulah yg kulakukan malam ini. Aku merayakannya dengan meminum sebotol wine. Kami bercerita banyak hal malam itu. Ditengah-tengah pembicaraan kami, entah kenapa tiba-tiba suasana hening. Kami sudah tidak punya topik lagi. Tetapi entah kenapa malam ini dia terlihat lebih menawan dari biasanya. Aku tidak bisa berhenti menatapnya. Dan sepertinya dia juga memperhatikanku dari tadi. Aku memajukan wajahku berniat untuk menciumnya. Karen sepertinya menangkap sinyal dariku, dia juga memajukan wajahnya. Tetapi tiba-tiba apartemenku mati lampu dan memecah keheningan. "Aaargh! Sepertinya sekringnya turun" kataku. Lalu aku lanjutkan lagi, "Biar aku periksa". "Tunggu, kenapa di luar terlihat gelap juga?" tanya Karen. Secara reflek aku melihat ke luar jendela dan memang iya, di luar sangat gelap. Hanya cahaya bulan yg menyinari kota.

Aku mendapat sms dari temanku. Katanya terjadi kegagalan listrik dan untuk beberapa hari, listrik di kota ini akan tidak stabil. Aku mengeluh dan menggunakan hp-ku untuk menerangi jalan menuju sofa tempat dimana Karen duduk. Aku lalu duduk di sebelahnya dan sibuk mengeluhi apa yg barusan terjadi. Karen juga mengeluhi hal yg sama. Selama beberapa jam, kami sibuk saja mengeluh tentang kegagalan listrik ini. Lalu tanpa sadar, aku dan karen tertidur kecapaian.

Paginya aku terbangun dan mendapatkan Karen sedang memasakkan panekuk untukku. Aku duduk di meja makan dan menunggu Karen untuk duduk supaya kami bisa makan bersama. "Sarapan dataaang" katanya dengan nada periangnya yg khas. "Kamu belum pernah makan masakankan? Tadi pagi-pagi sekali aku terbangun dan merasa lapar. Jadi aku menuju dapurmu yg ngomong-ngomong isinya lengkap juga ya, lalu aku membuat panekuk karena aku kurang suka panekuk instan yg biasa orang-orang beli" lanjutnya. Aku hanya menjawab kalau itu enak dan terus memakannya. Ketika aku mengambil beberapa panekuk untuk ke-2 kalinya, aku mendapat sms yg bertuliskan:
"Scott, cepat ke kantor. Ada kasus pembunuhan. Dan yg dibunuh itu sekeluarga."
Aku mempercepat makanku dan beranjak mandi dan besiap-siap. Aku dan Karen berpisah di parkiran mobil. Sebenarnya aku ingin Karen ikut denganku, tetapi dia harus mandi dan bersiap-siap dulu di rumahnya.

Sesampainya di kantor, temanku memberiku berkas dan data-data keluarga yg terbunuh. Belum selesai aku membaca data-data itu, Karen datang dan membawa berkas lain yg katanya itu adalah berkas beberapa orang yg hilang. Aku membawa berkas itu dan mengajak Karen ke ruanganku untuk membantuku mengambil informasi dari data-data yg menumpuk itu. Namun tiba-tiba boss menelponku dan menyuruhku untuk pergi ke rumah sakit jiwa segera. Aku langsung merapikan berkas-berkas itu dan pergi menuju mobilku bersama Karen.

Sesampainya di rumah sakit jiwa, Bossku membawaku ke sebuah kamar yg pintunya sedikit rusak. Aku memeriksa pintu itu. Dan mendapati bekas dobralan pintu dan gagang pintu yg sedikit rusak. Aku menyimpulkan bahwa orang ini merusak lubang kunci pintu itu dan mendobraknya beberapa kali. Cukup cerdas untuk orang yg mentalnya terganggu.

"Dulu tempat ini didiami oleh siapa?" tanyaku ke kepala rumah sakit. Dia menjawabnya dengan nada cemas,"Seorang psikopat yg mentalnya terganggu". Aku terbelalak kaget, "Tunggu, apakah pihak rumah sakit jiwa ini tidak memasanginya jaket khusus supaya dia tidak bisa kabur?" tanyaku. Kepala rumah sakit tidak menjawab. "Kami memasangnya. Tetapi entah bagaimana caranya dia bisa lepas dari jaket itu" kata salah seorang pekerja rumah sakit jiwa itu. "Scott! Coba lihat ini" teriak Karen. Aku berjalan ke tempatnya berada dan melihat pecahan kaca dan bercak darah di beberapa beling tersebut. Tak salah lagi, dia memecahkan kaca yg berada tak jauh di atas kasurnya dan berusaha sekuat tenaga untuk menyobeknya dengan itu. Dan di bawah kolong tempat tidur, aku melihat baju pengekang yg digunakan psikopat itu.

"Pak, ini berkas yg bapak suruh" kata seorang suster yg datang secara tiba-tiba. Kepala rumah sakit jiwa itu memberikan berkas itu padaku dan aku mengambil bebepara point penting dari berkas itu. Dan menulisnya di note yg aku bawa:

Alexander Black. Seorang psikopat gila yg suka membunuh dan menyiksa korbannya dengan sadis. Sangat pandai bersembunyi dan jelas, orang yg sangat berbahaya.

Aku menyimpan note itu di sakuku dan menghela nafas. Aku tahu kasus ini akan sangat sulit. Apalagi dengan keadaan listrik yg tidak stabil untuk beberapa hari kedepan.

Seorang psikopat gila di luar sana dan keberadaannya tidak diketahui. Kota ini dalam bahaya dan aku harus menyelesaikan kasus ini secepatnya.

Bersambung

Misteri Kota Tua.. Tamat


Kami masih kaget melihat mayat-mayat hidup di sekitar kami. Mereka tidak berkeliaran di sekitar kami, mereka masin menempel di dinding. Walau bagaimanapun juga, tetap saja kami ketakutan. "AAAARGH!! Tooloooong" suara itu berdengung keras di seisi ruangan. Suara itu berulang tak beraturan karena banyak sekali mayat hidup di sekitar ruangan. Kematian. Ini pasti ulah Kematian.Kami membereskan perkakas-perkakas kami dan melipat tenda kami dengan terburu-buru lalu kami pergi memasuki lorong yg gelap.

Tepat ketika kami di depan lorong, cahaya obor menyala dan menerangi lorong tersebut. Kami terus berlari tanpa menghiraukan apapun yg terjadi. Satu-persatu mayat-mayat yg menempel di dinding menjadi hidup dan berusaha menangkap kami. Setiap langkah yg kami ambil, setiap mayat yg kami lewati, mayat-mayat itu mendadak menjadi hidup. Aku menyuruh Florence dan Lotus untuk berlari lebih cepat. Tiba-tiba salah satu mayat di depan kami menjadi hidup dan itu membuat Florence reflek berlari mendekati dinding dan membuat satu mayat menangkapnya. "FLORENCE!" teriakku, tepat saat aku ingin mengambil golokku, seseorang dengan sigapnya mengambil golokku terlebih dahulu lalu memotong tangan mayat itu dan mendorong florence mendekati kami. Aku menangkap Florence dan memeluknya erat. Saat aku ingin berterimakasih, orang itu sudah menghilang. Menghilang dimakan mayat hidup. 

Mayat-mayat hidup tiba-tiba menjadi lebih berisik dan jangkauan mereka menjadi lebih jauh. Bahkan mereka sudah bisa meraih jaketku. Aku menyuruh Florence dan lotus untuk berlari dengan cepat. Setelah aku mengambil golokku di lantai, aku berlari menyusul mereka. Aku terus berlari dan tiba-tiba aku tersandung. Tersandung di sebuah ruangan yg gelap tanpa adanya cahaya dan mendadak cahaya obor di belakang kami mati.

"Florence! Lotus! Dimana kalian?" teriakku memanggil mereka. Aku berharap mereka menjawab sahutanku, tetapi yg aku dengar hanyalah suara langkah seseorang yg memegang tongkat sambil memukulkan tongkatnya ke kerangkeng besi sehingga terdengar suara, "Teng! Teng! Teng!" yg disusul dengan suara tawa. Ya, suara tawa Kematian.

Cahaya obor tiba-tiba menyala dan menerangi ruangan. Dan aku dapat melihat tuan Penderghast, Thomas dan Felix berdiri terikat di atas 3 altar dalam keadaan tidak sadar. Ke-tiga altar tersebut berada tepat di tengah ruangan. Di depan masing-masing altar ada sebuah peti yg berisi pedang. Pedang yg terukir indah dan sangat kuat. "Bagaimana kalau kita bermain permainan kecil? Yg harus kau lakukan hanyalah membunuh salah-satu dari mereka" Kematian berbicara dengan santainya. "Dimana anak dan istriku?" tanyaku. Kematian menghentakkan sabitnya ke lantai beberapa kali dan tiba-tiba Florence dan Lotus yg terkurung dalam sebuah kerangkeng turun dari atap dan mencapai permukaan lantai. "AYAAAAAH!!" teriak Lotus. "Lotus" sergahku sambil berlari menuju anak dan istriku, tetapi Kematian menghempaskanku. "Kau tidak akan bisa memeluk mereka kecuali kau menyelesaikan permainan ini!" Kematian menjelaskan. Aku menelan ludah, lalu berlari ke salah-satu peti dan mengambil pedang yg berada di dalamnya.

Kematian berjalan mendekatiku. Ketika dia tepat berada di belakangku, aku berbalik dan menusuknya tepat di jantungnya. Tetapi Kematian membalasnya dengan tawa. "Kau pikir kau bisa membunuhku? Aku adalah KEMATIAN!" ketika Kematian mengatakan namanya, terdengar suara tawa. Bukan tawa dari Kematian. Tawa itu terdengar dari langit-langit ruangan. Aku mendongak ke atas dan terkejut melihat banyak kepala manusia melayang di langit-langit ruangan. "Terkejut melihat koleksiku?" tanya Kematian. Tiba-tiba salah satu kepala terjatuh dan menggelinding ke arahku. Aku memperhatikan kepala itu dan akhirnya menyadari bahawa itu ada kepala Nikolai. "Kau hampir berhasil, Kevin. Cepat selesaikan permainan ini dan lanjutkan perjalananmu" kata Nikolai dengan lemah. Lalu sebuah pedang melayang ke arahku. Aku melihat Kematian, "Kau sudah tau aturannya" katanya. "Biar kubangunkan mereka" kata Kematian sambil mengangkat tangannya. Ajaib, mereka tiba-tiba terbangun dan meneriakkan sesuatu.

"Jangan bunuh aku! Ingat, aku adalah asisten setiamu" - Thomas
"Bnuh yg lain, tetapi jangan aku. Aku masih kuat, aku akan banyak membantu!" - tuan Penderghast
"Jangan berpikir untuk membunuhku. Aku adalah tetua kota ini, aku bisa membantumu keluar dari sini" - Felix.

Masing-masing orang memberikan alasan mereka. Aku tentu saja merasa bingung. Aku tidak mungkin membunuh Thomas. Dia sangat setia dan sangat sabar menghadapiku. Tetapi aku tidak mungkin juga membunuh tuan Penderghast karena dia akan sangat membantu. Ya, walaupun hubungan terakhir kami tidak terlalu baik, tetapi dia sangat kuat dan pemikirannya sangat cepat. Jangan tanya tentang Felix. Dia bisa membantu kami untuk keluar dari rumah Kematian ini.

Aku melihat keluargaku, Florence sedang memberi isyarat untuk diam sambil menunjuk Lotus. Lalu aku melihat Lotus yg sedang berusaha membuka gembok kerangkeng besi tadi. Sungguh, aku bangga dengan Lotus. Gadis semata wayangku yg cantik jelita, cerdas dan licik. Aku kembali melihat Florence. Aku melihat dia memberi isyarat untukku agar tetap fokus ke permainan.

Aku melihat ke-tiga altar tersebut. Pedang masih aku pegang. Tanganku bergetar. Hatiku berperang menentukan siapa yg seharusnya dibunuh. Semuanya sangat aku butuhkan dan semuanya adalah orang yg dekat denganku. "Hei, apakah kau akan menghabiskan banyak waktu di sin?" Kematian berbicara memperingatiku. Aku menggelengkan kepala dan membuat keputusan. Aku berjalan menaiki altar. "Tidak. Apa yg kau lakukan? JANGAN BUNUH AKU!!". aku hanya bisa menjawab, "Maafkan aku" lalu aku menusuknya tepat di kepalanya. "Tidurlah dengan tenang" aku mengucapkan kata-kata terakhirku.

Aku berdiri dan berbalik, "Sekarang lepaskan keluargaku dan teman-temanku!" perintahku pada Kematian. Kematian mengankat tangannya dan melepaskan ke-dua tahanannya. Tetapi tidak terjadi apa-apa pada kerangkeng keluargaku. "Kau pikir aku akan sebaik itu melepaskan mereka? HAH! Jangan bermimpi" katanya. "Kurang ajar! Ini tidak yg seperti yg kau janjikan!" teriakku. "Hahaha! Aku hanya merubah pikiranku" jawabnya dengan santai. Tanganku bergetar, ingin sekali aku menebas kepalanya. Tetapi itu percuma saja, dia adalah Kematian dan Kematian tidak akan bisa mati. "Hey, lihat sekarang siapa yg licik" kata Lotus dengan nada menantang. Kematian berbalik ke belakang dan terkejut, "Bagaimana kalian bisa keluar?" , "Dengan sedikit kepintaran dan kelicikan" Lotus menjawab dan melemparkan air suci. Kematian berteriak sangat keras. Teriakannya bahkan hampir memekakkan telingaku. Lalu dia melompat dan menghilang ditelan cahaya kehitaman.

"Florence! Lotus!" teriakku sambil berlari memeluk mereka. "AYAH!" teriak Lotus dan Florence. Kami saling berpelukan. Thomas dan tuan Penderghast datang dan ikut memelukku. Lalu kami berdiri dan melanjutkan perjalanan.

"Kevin, kenapa kau membunuh Felix?" tanya Thomas. Lalu aku menjawab:

"Terkadang dalam kehidupan, kau akan menemukan pilihan tersulit dalam hidupmu. Ikuti kata hati nuranimu dan lakukan sesuai dengan perintahnya. Mereka tidak akan pernah salah"

Bersambung

Misteri Kota Tua.. Part 7


Kami masih kaget melihat mayat-mayat hidup di sekitar kami. Mereka tidak berkeliaran di sekitar kami, mereka masin menempel di dinding. Walau bagaimanapun juga, tetap saja kami ketakutan. "AAAARGH!! Tooloooong" suara itu berdengung keras di seisi ruangan. Suara itu berulang tak beraturan karena banyak sekali mayat hidup di sekitar ruangan. Kematian. Ini pasti ulah Kematian.Kami membereskan perkakas-perkakas kami dan melipat tenda kami dengan terburu-buru lalu kami pergi memasuki lorong yg gelap.

Tepat ketika kami di depan lorong, cahaya obor menyala dan menerangi lorong tersebut. Kami terus berlari tanpa menghiraukan apapun yg terjadi. Satu-persatu mayat-mayat yg menempel di dinding menjadi hidup dan berusaha menangkap kami. Setiap langkah yg kami ambil, setiap mayat yg kami lewati, mayat-mayat itu mendadak menjadi hidup. Aku menyuruh Florence dan Lotus untuk berlari lebih cepat. Tiba-tiba salah satu mayat di depan kami menjadi hidup dan itu membuat Florence reflek berlari mendekati dinding dan membuat satu mayat menangkapnya. "FLORENCE!" teriakku, tepat saat aku ingin mengambil golokku, seseorang dengan sigapnya mengambil golokku terlebih dahulu lalu memotong tangan mayat itu dan mendorong florence mendekati kami. Aku menangkap Florence dan memeluknya erat. Saat aku ingin berterimakasih, orang itu sudah menghilang. Menghilang dimakan mayat hidup. 

Mayat-mayat hidup tiba-tiba menjadi lebih berisik dan jangkauan mereka menjadi lebih jauh. Bahkan mereka sudah bisa meraih jaketku. Aku menyuruh Florence dan lotus untuk berlari dengan cepat. Setelah aku mengambil golokku di lantai, aku berlari menyusul mereka. Aku terus berlari dan tiba-tiba aku tersandung. Tersandung di sebuah ruangan yg gelap tanpa adanya cahaya dan mendadak cahaya obor di belakang kami mati.

"Florence! Lotus! Dimana kalian?" teriakku memanggil mereka. Aku berharap mereka menjawab sahutanku, tetapi yg aku dengar hanyalah suara langkah seseorang yg memegang tongkat sambil memukulkan tongkatnya ke kerangkeng besi sehingga terdengar suara, "Teng! Teng! Teng!" yg disusul dengan suara tawa. Ya, suara tawa Kematian.

Cahaya obor tiba-tiba menyala dan menerangi ruangan. Dan aku dapat melihat tuan Penderghast, Thomas dan Felix berdiri terikat di atas 3 altar dalam keadaan tidak sadar. Ke-tiga altar tersebut berada tepat di tengah ruangan. Di depan masing-masing altar ada sebuah peti yg berisi pedang. Pedang yg terukir indah dan sangat kuat. "Bagaimana kalau kita bermain permainan kecil? Yg harus kau lakukan hanyalah membunuh salah-satu dari mereka" Kematian berbicara dengan santainya. "Dimana anak dan istriku?" tanyaku. Kematian menghentakkan sabitnya ke lantai beberapa kali dan tiba-tiba Florence dan Lotus yg terkurung dalam sebuah kerangkeng turun dari atap dan mencapai permukaan lantai. "AYAAAAAH!!" teriak Lotus. "Lotus" sergahku sambil berlari menuju anak dan istriku, tetapi Kematian menghempaskanku. "Kau tidak akan bisa memeluk mereka kecuali kau menyelesaikan permainan ini!" Kematian menjelaskan. Aku menelan ludah, lalu berlari ke salah-satu peti dan mengambil pedang yg berada di dalamnya.

Kematian berjalan mendekatiku. Ketika dia tepat berada di belakangku, aku berbalik dan menusuknya tepat di jantungnya. Tetapi Kematian membalasnya dengan tawa. "Kau pikir kau bisa membunuhku? Aku adalah KEMATIAN!" ketika Kematian mengatakan namanya, terdengar suara tawa. Bukan tawa dari Kematian. Tawa itu terdengar dari langit-langit ruangan. Aku mendongak ke atas dan terkejut melihat banyak kepala manusia melayang di langit-langit ruangan. "Terkejut melihat koleksiku?" tanya Kematian. Tiba-tiba salah satu kepala terjatuh dan menggelinding ke arahku. Aku memperhatikan kepala itu dan akhirnya menyadari bahawa itu ada kepala Nikolai. "Kau hampir berhasil, Kevin. Cepat selesaikan permainan ini dan lanjutkan perjalananmu" kata Nikolai dengan lemah. Lalu sebuah pedang melayang ke arahku. Aku melihat Kematian, "Kau sudah tau aturannya" katanya. "Biar kubangunkan mereka" kata Kematian sambil mengangkat tangannya. Ajaib, mereka tiba-tiba terbangun dan meneriakkan sesuatu.

"Jangan bunuh aku! Ingat, aku adalah asisten setiamu" - Thomas
"Bnuh yg lain, tetapi jangan aku. Aku masih kuat, aku akan banyak membantu!" - tuan Penderghast
"Jangan berpikir untuk membunuhku. Aku adalah tetua kota ini, aku bisa membantumu keluar dari sini" - Felix.

Masing-masing orang memberikan alasan mereka. Aku tentu saja merasa bingung. Aku tidak mungkin membunuh Thomas. Dia sangat setia dan sangat sabar menghadapiku. Tetapi aku tidak mungkin juga membunuh tuan Penderghast karena dia akan sangat membantu. Ya, walaupun hubungan terakhir kami tidak terlalu baik, tetapi dia sangat kuat dan pemikirannya sangat cepat. Jangan tanya tentang Felix. Dia bisa membantu kami untuk keluar dari rumah Kematian ini.

Aku melihat keluargaku, Florence sedang memberi isyarat untuk diam sambil menunjuk Lotus. Lalu aku melihat Lotus yg sedang berusaha membuka gembok kerangkeng besi tadi. Sungguh, aku bangga dengan Lotus. Gadis semata wayangku yg cantik jelita, cerdas dan licik. Aku kembali melihat Florence. Aku melihat dia memberi isyarat untukku agar tetap fokus ke permainan.

Aku melihat ke-tiga altar tersebut. Pedang masih aku pegang. Tanganku bergetar. Hatiku berperang menentukan siapa yg seharusnya dibunuh. Semuanya sangat aku butuhkan dan semuanya adalah orang yg dekat denganku. "Hei, apakah kau akan menghabiskan banyak waktu di sin?" Kematian berbicara memperingatiku. Aku menggelengkan kepala dan membuat keputusan. Aku berjalan menaiki altar. "Tidak. Apa yg kau lakukan? JANGAN BUNUH AKU!!". aku hanya bisa menjawab, "Maafkan aku" lalu aku menusuknya tepat di kepalanya. "Tidurlah dengan tenang" aku mengucapkan kata-kata terakhirku.

Aku berdiri dan berbalik, "Sekarang lepaskan keluargaku dan teman-temanku!" perintahku pada Kematian. Kematian mengankat tangannya dan melepaskan ke-dua tahanannya. Tetapi tidak terjadi apa-apa pada kerangkeng keluargaku. "Kau pikir aku akan sebaik itu melepaskan mereka? HAH! Jangan bermimpi" katanya. "Kurang ajar! Ini tidak yg seperti yg kau janjikan!" teriakku. "Hahaha! Aku hanya merubah pikiranku" jawabnya dengan santai. Tanganku bergetar, ingin sekali aku menebas kepalanya. Tetapi itu percuma saja, dia adalah Kematian dan Kematian tidak akan bisa mati. "Hey, lihat sekarang siapa yg licik" kata Lotus dengan nada menantang. Kematian berbalik ke belakang dan terkejut, "Bagaimana kalian bisa keluar?" , "Dengan sedikit kepintaran dan kelicikan" Lotus menjawab dan melemparkan air suci. Kematian berteriak sangat keras. Teriakannya bahkan hampir memekakkan telingaku. Lalu dia melompat dan menghilang ditelan cahaya kehitaman.

"Florence! Lotus!" teriakku sambil berlari memeluk mereka. "AYAH!" teriak Lotus dan Florence. Kami saling berpelukan. Thomas dan tuan Penderghast datang dan ikut memelukku. Lalu kami berdiri dan melanjutkan perjalanan.

"Kevin, kenapa kau membunuh Felix?" tanya Thomas. Lalu aku menjawab:

"Terkadang dalam kehidupan, kau akan menemukan pilihan tersulit dalam hidupmu. Ikuti kata hati nuranimu dan lakukan sesuai dengan perintahnya. Mereka tidak akan pernah salah"

Bersambung

Misteri Kota Tua.. Part 6


"Apa? Kau berbicara dengan kematian?" Felix tampak kaget. Wajahnya menjadi pucat. "Apakah dia memberimu tantangan?" lanjut Felix. "Ya, dia memberiku tantangan. Aku harus menemukan apa yg terjadi dengan desa ini. Mengapa desa ini terkutuk." jawabku. "Baiklah, itu pertanda buruk. Waspadalah, dia tidak akan membiarkanmu menang. Percaya atau tidak, ruangan itu dikendalikan oleh kematian" Felix memperingatiku. Aku sedikit takut mendengarnya. Tapi keputusan sudah dibuat dan aku harus menyelesaikan ini walaupun aku harus mati.

Aku menuruni tangga yg berhubungan dengan ruangan bawah tanah tempat harta tersebut berada. Teman-teman dan keluargaku sudah menunggu di dalam. Saat aku sudah berkumpul dengan mereka, cahaya obor tiba-tiba menyala dan menerangi perjalanan kami. "Selamat datang di rumahku yg sederhana ini. Kuharap kalian menikmati petualangan ini" suara Kematian bergema di seisi ruangan. Suaranya yg khas dan menyeramkan seakan menghantuiku. Jantungku berdegup kencang, tapi aku berusaha untuk tetap tenang.

Ruangan ini lebih terlihat seperti lorong. Lorong yg luas dan mengerikan. Sementara ruangan yg kami pijak saat ini lebih terlihat seperti lobby. Dinding-dinding lobby ini seakan terbuat dari mayat-mayat. Banyak tengkorak ataupun mayat yg masih segar menempel di dinding. Udaranya panas dan berbau apek. Kami semua terlihat ketakutan. Florence menggenggam erat tanganku dan Lotus memeluk kakiku. "Oke, aku tahu kita semua ketakutan. Tapi aku yakin kita bisa menyelesaikan ini." kataku memberikan semangat. Tidak ada tanggapan dari kata-kataku tadi. Sudah jelas semuanya ketakutan dan suasana di sini sangat menegangkan.

Diterangi cahaya obor yg menggantung di dinding, aku mulai berjalan dan menelusuri lorong demi lorong. Ketika aku berpikir bahwa tidak ada apa-apa di sini, tiba-tiba saja dinding bergetar hebat. Terdengar suara tawa yg memilukan dari kejauhan. Tuan penderghast mundur beberapa langkah sehingga dia semakin dekat dengan dinding. Tiba-tiba salah satu mayat yg menempel berkata, "Toloong. Tolooong akuu" lalu dia berusaha untuk melepaskan kedua tangannya yg menempel di dinding dan memeluk tuan Penderghast. "Toloong akuu.. Lepaskan akuu" suara itu sangat memilukan, menakutkan dan membuatku merinding. Tuan Penderghast berusaha keras melepaskan pelukan mayat tersebut. "AAAAAAAH!!!" tiba-tiba terdengar suara jeritan. Lotus, itu jeritan Lotus!! "Lepaskan tanganku!" kata Lotus memukul tangan mayat yg mencengkram erat tangannya. Disaat seperti ini, aku herus berpikir cepat. "Thomas, bantu tuan Penderghast dan aku akan membantu Lotus" perintahku. Aku mengambil golok yg aku bawa untuk berjaga-jaga dan memotong tangan mayat tersebut. Lotus terjatuh ketika tangan tersebut terpotong. Mayat itu lalu menatapku tajam lalu berteriak. Teriakan itu sangat keras. "Florence, bawa Lotus jauh dari sini, aku harus membantu tuan Penderghast!". Florence memegang tangan Lotus dan berlari sekencang yg mereka bisa. Sedangkan aku memasang sumbat telinga dan berusaha melepaskan pelukan mayat dari tuan Penderghast. Tak kusangka, pelukan itu sangat kuat. "Toolong akuuu!" suara minta tolong itu terdengar semakin keras. Tanpa pikir panjang, aku mengambil golokku dan menusukkannya tepat di kepalanya. Mayat itu mendongak ke atas, merintih kesakitan lalu terjatuh. Dia tidak jatuh ke tanah, tetap tergantung di dinding, hanya sebagian badannya saja yg lepas dari dinding, selebihnya masih menempel.

Setelah tuan Penderghast terlepas dari pelukan mayat, kami berlari menyusul Florence dan Lotus. Beruntung, mereka mendengar teriakan kami. Kami bertemu di ruangan lain yg berbentuk seperti lobby. Di depan kami, tampak sebuah sungai yg memisahkan antara ruang satu, dengan ruang lainnya. Kami harus mencari cara untuk bisa sampai di ruangan seberang. Kami berpencar mencari apapun untuk di pakai menyebrang. "Hey, disini!" Florence berteriak. "Di sini ada semacam tuas" Florence menunjukkan tuas tersebut. Aku memperhatikan tuas tersebut. Tuas itu terbuat dari lengan manusia lengkap dengan tangannya. Ada tulisan di bagian bawahnya.
Hanya dapat ditarik oleh orang terpilih
Lotus membacanya dengan keras. Jujur saja, itu mengagetkanku. Karena hanya aku yg tadi berbicara dengan kematian, aku merasa seperti orang yg terpilih. Dengan perasaan cemas dan takut, aku memegang tuas tersebut dan menariknya. Aneh, tidak tuas tersebut tidak juga turun. "Biar aku yg menariknya" Thomas mengajukan diri. Dia genggam tuas itu, lalu tiba-tiba tuas tersebut mencengkram tangan Thomas. Keringat dingin tampak membasahi kening Thomas. Aku ingin menolongnya, tapi Thomas melarangku. "Tidak, aku tidak ingin kau terluka. Kau adalah kunci dari permainan kematian" Thomas membentakku. Dia menarik tuas tersebut dan akhirnya tuas tersebut turun. Air sungai di bawah kami beriak. Ruangan tempat kami berada bergetar dan dari bawah jembatan mulai terangkat. Jembatan yg lantainya terbuat dari beberapa tulang dan otot-otot manusia sebagai pengerat jembatan tersebut. Aku menyuruh tuan Penderghast, Florence dan Lotus untuk menyebrangi jembatan tersebut. Aku melihat Thomas dan kaget. Kaget karena tangan yg mencengkram Thomas belum juga lepas. Aku berlari mendekatinya dan membantunya dengan cara menarik Thomas. Tapi cengkraman tersebut terlalu kuat. Aku berusaha memotong tulang tersebut, tapi tulang itu terlalu kuat. "Kevin, pergi saja sekarang. Aku hanya memperlambat perjalanan kalian. Aku akan menyusul, aku janji" Thomas lalu memaksaku untuk pergi. Dengan berat hati aku meninggalkannya.

Aku menyebrangi jembatan yg naik ke permukaan dengan pengorbanan Thomas. Jembatan tersebut licin dan sedikit amis. "Kevin, mana Thomas?" tanya tuan Penderghast. Aku hanya menggeleng lemah. Tuan Penderghast tampak pucat dan berlari ingin kembali menyelamatkan Thomas. Ya, Thomas dan tuan Penderghast adalah sahabat baik. Tapi sayang, jembatan itu kembali turun ke bawah sungai sehingga tuan Penderghast tidak bisa menyebrang. Tuan Penderghast berteriak memanggil Thomas. Tetapi tidak ada tanggapan. "Hahahahah! Aku membutuhkan pelayan yg setia seperti dia" suara kematian kembail menggema ruangan. Tuan Penderghast terlihat panik. Dia berbalik lalu mengarahkan telunjuknya padaku, "INI SEMUA SALAHMU! Kalau kau tidak meninggalkannya, dia tidak akan berakhir seperti ini!" tuan Penderghast marah padaku. Aku tidak berani menjawab, bagaimanapun juga ini salahku. Dia benar, aku tidak seharusnya meninggalkan Thomas. Tuan Penderghast mendekat dan hendak menamparku. Tetapi tangannya ditahan oleh Florence. "DIAM! Kau hanya panik! Thomas adalah orang yg cerdas, dia pasti punya rencana. Sekarang bisakan kau diam dan melanjutkan perjalanan?!" Kata Florence kesal. Tak pernah kulihat dia seperti ini. Tuan Penderghast mundur beberapa langkah, lalu berjalan cepat menuju lorong selanjutnya. Tetapi tuan Penderghast tiba-tiba terpeleset dan menabrak tembok. Sentak para mayat yg menempel menjadi kaget lalu mencengkram tuan Penderghast. "Tooolooong akuu.." , "LAPAAAR!! Aku lapaaar!" para mayat merintih kesakitan dan kelaparan. Aku, Florence dan Lotus hanya diam mematung. Melihat tuan Penderghast perlahan hilang. Dia hilang seakan dimakan oleh dinding-dinding. Bukan mayat, tapi dinding. Reflek, aku berlari mengejar tuan Penderghast. "Tunggu ayah. Ini seperti jebakan." Lotus mengambil batu lalu melemparkannya ke mayat-mayat yg menempel. Mayat itu lalu bangun dan berteriak. Lalu beberapa saat kemudian diam dan kembali tidur. Samar-samar terdengar suara teriakan tuan Penderghast. Kami berlari menuju sebuah lorong. Mengikuti lorong tersebut dan berhati-hati untuk tidak mendekati mayat tersebut. Suara itu berakhir di dalam ruangan yg luas, namun kosong tanpa isi.

"Sayang, bagaimana kalau kita sudahi perjalanan hari ini? Aku dan Lotus sudah capek dan harus beristirahat" bujuk Florence. Sebenarnya aku keberatan. Tapi Florence ada benarnya juga. Kami sudah terlalu capek dan harus beristirahat. Kami lalu mendirikan tenda lalu tidur. Beberapa jam kemudian aku mendengar suara erangan kesakitan. Dan suara minta tolong juga samar-samar terdengar. Aku mengintip keluar dan kaget ketika melihat.. Mayat-mayat hidup!

Bersambung

Misteri Kota Tua.. Part 5


Seperti yg sudah direncanakan. Aku pergi ke kediaman Felix, tetua di kota ini. Menurut informasi dari Thomas dan tuan Penderghast, Felix sangat serius dan tidak suka berbasa-basi. Jadi aku harus berhati-hati berkomunikasi dengan dia. Pagi-pagi sekitar jam 09.00 aku sudah berada di depan pagar rumahnya. Rumahnya terlihat sangat tua, di beberapa sisi rumah sudah ditumbuhi tanaman rambat. Pohon-pohon tertata rapi dan rumput liar tumbuh cukup tinggi. Aku melewati pagar rumahnya yg berwarna kelabu itu dan berjalan menuju pintu rumahnya. Aku mengetuk pintunya 3 kali dan mendengar suara, "Silahkan masuk" dari Felix. Aku putar gagang pintu tersebut dan memasuki rumahnya yg mewah, namun terkesan sederhana. Setelah memasuki rumahnya, aku memberikan buah-buahan dan sayur mayur yg sudah kusiapkan sebelumnya. Dia menerimanya dan menaruhnya di sebelahnya.

"Iya, ada masalah apa?" kata Felix dengan ramah. Aku menceritakan semua kejadian-kejadian ganjil yg aku alami. Tak lupa aku ceritakan tentang kematian kolegaku, Nikolai. Felix tampak sesekali menganggukkan kepalanya. Sesekali pula dia mengerutkan dahinya. Setelah aku menyelesaikan kejadian-kejadian ganjil yg aku alami, Felix membuka mulutnya, "Tadi kamu mengatakan bahwa Nikolai memberikan gulungan kertas. Bisakah aku melihatnya?". Aku berikan kertas itu dan melihat Felix membacanya. Setelah dia selesai membacanya, tampak ketegangan di wajahnya. "Apakah kau ingin mengambil harta ini dan menyelamatkan kami?" tanya Felix. Aku mengangguk lalu Felix berbicara dengan wajahnya yg serius, "Baiklah. Temui aku di tengah taman besok. Pada sore hari". Aku mengangguk lagi. Dia lalu mengantarku ke pintu depan. "Jangan lupa bawa beberapa teman, perjalanan kalian akan sangat panjang" pesan Felix. Aku mengangguk dan berjalan menuju rumah tuan Penderghast untuk menemaniku mengambil harta karun tersebut.Tuan Penderghast bersedia menemaniku, bahkan dia menjanjikan akan membawa seorang teman. Setelah memberitahu kapan kami akan bertemu, aku berjalan pulang.

"Bagaimana yah? Apakah ayah mendapatkan suatu petunjuk?" tanya Lotus ketika menyadari kedatanganku. "Sudah dong. Felix akan membantu membukakan gerbang menuju ruang rahasia." jelasku. "Kevin, suamiku. Ayuk duduk di sini. Sudah lama kita tidak bersantai" ajak Florence, istriku yg cantik dan baik hati. Aku duduk di atas kursi kayu dan menyeruput kopi pahit yg sudah Florence sediakan. Hatiku terasa tentram, tenang dan seperti ada perasaan lega. Sudah lama aku tidak merasakan ketenangan seperti ini. Aku melihat Florence yg duduk dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Lalu aku berpaling dan melihat Lotus yg sedang menyirami bunga. Ya, taman rumah kami memiliki berbagai macam bunga. Diantaranya adalah tulip yg sangat disukai Florence. Lotus? Dia menyukai bunga teratai. "Aku sangat menyukai bunga ini. Sangat indah. Namanya juga sama dengan namaku, Lotus" katanya setiap aku tanyakan kenapa dia sangat suka memperhatikan bunga kesukaannya itu.

Hari sudah malam, kami memasuki rumah dan memastikan semua jendela dan pintu terkunci, sedikit bersantai dan beranjak tidur. Setelah aku memakai piyama, aku melihat Florence dan Lotus yg berdiri di depan pintu kamar. " Ayah, kami ingin ikut ayah menuju harta tersebut" kata Lotus sedikit takut-takut. "Apakah kalian yakin? Perjalanan akan sangat panjang dan berbahaya" kataku mengingatkan mereka. "Kita keluarga. Senang dan sedih kita lalui bersama. Kita saling mendukung dan melindungi satu sama lain" Florence berkata dengan bijak. "Hmm. Baiklah, sepertinya aku tidak ada pilihan lain" kataku memutuskan. Lalu mereka tersenyum dan berlari memelukku.

Keesokan harinya (sekitar jam 04.00) kami sudah berkumpul di jantung kota. Tempat dimana patung dewa kematian berdiri dengan kokoh. Felix menyuruh kami untuk sedikit bersantai dan memantapkan niat karena perjalanan ini sangat beresiko. Sembari menunggu jam 06.00 tiba, kami melakukan kegiatan yg setidaknya merilekskan kami. Aku dapat melihat Lotus mengejar kupu-kupu. Florence yg sedang duduk dengan anggun diantara rerumputan dengan kepala mendongak keatas dan menutup matanya. Dia sedang menikmati anugerah tuhan seakan-akan ini adalah saat terakhirnya. Tuan Penderghast ngobrol dengan temannya, Thomas. Iya, Thomas asistenku. Felix sedang mondar-mandir di depan patung dewa kematian tersebut. Sesekali dia berhenti dan memperhatikan patung tersebut, lalu tersenyum dan kembali mondar-mandir. Aku sendiri sedang memikirkan apa yg akan terjadi nanti dan bagaimana aku bisa menjaga diriku dan orang-orang yg akan ikut nanti.

Waktu sudah menunjukkan jam 06.00 malam. Kami berkumpul di depan patung tersebut sementara Felix yg berdiri paling depan sedang membaca mantra. Beberapa saat kemudian kabut mulai turun dan menyelimuti seisi kota. Aku melihat sekeliling. Semua orang yg tadi di sekelilingku mendadak hilang. Di hadapanku, kabut mulai bersibak dan samar-samar aku melihat seseorang. Semakin lama orang itu semakin mendekat. Semakin dia mendekat, semakin jelas pula rupanya. Ternyata orang itu adalah dewa kematian. "Beraninya kau mencoba mengambil harta kami! Apakah kau akan menjadi pahlawan untuk kota ini? Hahahah, aku bahkan tidak bisa  membayangkannya" remehnya. Lalu dia melanjutkan, "Hah! Kau pikir aku akan membukakan jalan untukmu?! TIDAK AKAN!". Aku yg sedari tadi diam saja, memberanikan diri untuk berbicara. "Apa maksudmu menjadi pahlawan?". Dewa kematian itu berbalik dan mengatakan, "Jadi kau belum mengetahuinya ya? Hahahah, pahlawan macam apa yg tidak mengetahui seluk beluk kota yg ingin dia selamatkan? Baiklah, mari kita sedikit bermain. Aku akan membukakan jalan, dan kalian silahkan mencari harta tersebut" dewa kematian menantangku. "Cukup mudah" jawabku dengan rasa curiga. "Hahahah, kau pikir aku akan membiarkanmu lewat semudah itu? Sungguh bodoh! Tentu saja aku akan memberikan ujian untuk kalian. Hahahah!" dewa kematian tertawa dengan suaranya yg sangat mengerikan. Baru inginku tanya ujiannya berupa apa, dewa tersebut terbang menembus badanku. Lalu aku jatuh pingsan.

"Kevin! Suamiku! Bangun!" suara Florence samar-samar terdengar dan menyadarkanku. Aku dapat merasakan tangan halusnya menampar pelan pipiku. Aku membuka mataku dan memfokuskan pandanganku. Semuanya menatapku dengan penuh rasa prihatin. "Apa yg terjadi?" aku membuka mulutku dan akhirnya semuanya menghembuskan nafas lega mereka. "Kamu tadi tiba-tiba pingsan. Mukamu sangat pucat, badanmu dingin. Bahkan denyut nadimu hilang. Sesaat kami pikir kamu mati. Tapi syukurlah kamu sudah siuman. Oh iya, saat kamu pingsan, ada pintu rahasia yg tiba-tiba saja terbuka." Thomas menjelaskannya padaku dengan singkat. Aku berusaha berdiri dan menahan rasa sakit di kepalaku dan memerintahkan mereka untuk memasuki jalan rahasia yg tadi terbuka. Aku menyuruh mereka untuk masuk duluan dan menungguku karena aku dipanggil oleh Felix. "Baiklah, aku hanya bisa menemani kalian sampai di sini saja." kata Felix sekalian pamit. " Tunggu, tadi Thomas mengatakan denyut nadiku tidak ada,kan?" tanyaku. "Ya, memangnya ada apa?" tanya Felix. "Berarti saat aku berbicara dengan kematian, aku.. Aku mati"

Bersambung

Misteri Kota Tua.. Part 4


"Apakah kamu yakin, Lotus?" kataku setelah mendengar ide Lotus tentang teka-teki terakhir itu. "Ya, yah. Aku sangat yakin. Hanya di sana ayah bisa menemukan pria bersabit." Lotus mempertegas idenya. Aku segera menelfon Nikolai dan membuat  janji untuk bertemu di tempat yg Lotus katakan. Setelah membuat janji, Florence mengobatiku dan melanjutkan tidur kami. Keesokan harinya, aku menuju tempat yg telah kami janjikan. Aku duduk di atas kursi tua sambil menunggu Nikolai yg sepertinya telat. "Kevin! Kevin! Lihat, aku menemukan sesuatu di balik kertas ini" kata Nikolai berlari kearahku sambil melambaikan kertasnya yg menjadi lebih tipis. "Lihat, kertas ini ternyata di-double dan di rekatkan dengan kertas lainnya" Nikolai berbicara dengan semangat menggebu-gebu. Aku melirik kertas itu dengan seksama. Aku hanya melihat tulisan-tulisan yg tidak bisa aku mengerti. Sepertinya itu adalah bahasa kuno yg dulunya dipakai di kota ini. "Menurutku, ini adalah bahasa kuno yg dipakai di kota ini. Tetapi anehnya, aku tidak bisa menemukan tata bahasa ini di buku manapun." Nikolai menjelaskan. Aku mengangguk dan berkata, "Kita acuhkan saja dulu. Bisa saja ini semacam jebakan". Kami sengaja bertemu sore hari dan menunggu sampai malam. Karena, di saat itulah kota ini hidup. Tak terasa, malampun menyelimuti kota ini. Jalanan yg sepi menambah kesan angker di kota ini. Dan di sinilah kami. Di jantung kota yg terdapat patung dewa kematian yg sedang memegang sabit. Sabit panjang yg menjadi icon dari dewa kematian.

Kami mencari cara untuk berkomunikasi dengan patung ini. Kami memulainya dengan hal dasar seperti, "Hai" atau "Halo"  tapi tidak ada reaksi. Lalu kami mencoba untuk mencari sesuatu seperti tombol rahasia atau semacamnya. Hasilnya tetap. Nihil. Tidak habis akal, kami menocba sesuatu seperti, "Bangkitlah!!" sampai "Bangunlah wahai dewa kematian" tapi hanya keheningan malam yg kami dapatkan. Kami sudah kehabisan akal. Kami menduduki kursi tua itu dan tiba-tiba mendengar suara tawa yg mengerikan. Suarau tawa itu tidak bersumber pada satu orang. Tetapi banyak orang. Tawa itu membuat kami menutup telinga kami dan berusaha lari ke rumah masing-masing. Tetapi rumah Nikolai terlalu jauh, sehingga aku memaksa Nikolai untuk menuju rumahku saja. Kami berlari sekencang yg kami bisa. Tiba-tiba burung gagak jatuh di hadapan kami. Kami berhenti dan mendongak ke atas. Kami bergidik ngeri melihat rombongan gagak terbang mengitari kota tua ini. Dan beberapa di antara mereka jatuh tak bernyawa. Pot-pot bunga penduduk kota bergetar hebat dan angin berhembus kencang sehingga menyusahkan kami untuk fokus berlari ke rumahku. Suara tawa itu terdengar semakin nyaring, semakin mengerikan. Keringat dingin membasahi keningku dan rasa takut menjalari sekujur tubuhku. Tetapi kami tetap saja berlari sekencang yg kami bisa. Tiba-tiba tawa itu berhenti. Angin berhneti berhembus dan pot bunga berhenti bergetar. Tampak seseorang berpakaian serba hitam berdiri di hadapan kami. Wajahnya tertutupi topinya yg besar. "JANGAN AMBIL HARTA KARUN ITU ATAU KALIAN AKAN MATI!" orang itu berkata. Dia melepaskan topinya dan berteriak. Wajahnya yg sangat buruk membuatku takut. Dan teriakannya yg nyaring memekakkan telingaku. Aku menarik pundak Nikolai dan menyeretnya menuju rumahku. Teriakan itu berhenti secara tiba-tiba. Dan yg selanjutnya terjadi adalah, Nikolai terhempas secara tiba-tiba dan pohon bambu menusuknya tepat di perutnya. Aku berteriak dan berlari kearahnya. Aku mencengkram bajunya. Dia terlalu lemah untuk berbicara. Dia mengambil kertas di kantong bajunya dan memberikannya padaku. Dia tersenyum dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Aku mengambil gulungan kertas itu dan tiba-tiba terhempas dan menabrak dinding di belakangku. Orang yg memakai baju hitam itu menghampiriku dan mengulurkan tangannya untuk mencekik leherku. Aku menghempaskan tangannya dan berlari. Dan akhirnya aku berhasil memasuki rumahku.

Rasa lemas, takut dan sedih bercampur. Aku sudah terlalu capek mengurusi hal-hal seperti ini. Aku sudah menyerah. Aku tak tahan lagi. Disaat aku menceritakan ini ke keluargaku. Lotus berdiri menghampiriku dan memelukku. Sedangkan Florence mengelus kepalaku dan berkata, "Kamu pasti bisa. Dan kami akan selalu mendukungmu apapun yg terjadi" , "Iya, yah. Sekarang bisakah ayah berikan gulungan kertas itu lalu beristirahat sedangkan aku dan ibu berusaha memecahkan kode ini?". Aku mengambil gulungan kertas itu di kantong celanaku dan memberikannya pada Lotus, putriku yg cantik dan cerdas. Lalu Florence berdiri dan mengulurkan tangannya. Aku ulurkan tanganku dan berdiri. Florence lalu menuntunku menuju kamar. Dia mengecupku dan pergi menemui Lotus. Aku sangat bangga dengan keluargaku. Mereka tetap mendukungku meskipun aku telah meletakkan mereka ke dalam kota tua yg mengerikan ini.

Keesokan harinya aku terbangun dan menemukan Florence berdiri di sisi kasur. Dia tersenyum melihatku lalu memelukku. Aku merasa aneh dengan pelukan itu. Aku tidak merasakan adanya kasih sayang dipelukan itu. Semakin lama pelukan Florence semakin erat. Aku merasa tercekik dan sedikit mendorong Florence untuk menandakan bahwa aku merasa sesak. Tetapi pelukan itu malah semakin erat dan aku merasa semakin sesak. Semakin kesulitan bernafas. Aku berusaha keras untuk melepaskan pelukan yg menyakitkan itu. Tetapi pelukan itu semakin kuat dan membuatku semakin lemas. Florence berbisik pelan di telingaku, "mati kau" dan mempererat pelukannya. Aku menjadi semakin lemas dan tak bertenaga. Mataku berkunang-kunang. Nafasku sesak. Pada detik-detik kematianku, Seseorang menghantam Florence dengan vas bunga. Dia pingsan dan aku langsung mendorongnya. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berusaha memfokuskan mataku. "Sayangku, apakah kau tidak apa-apa??" Florence memelukku. Aku bisa merasakan kasih sayang di pelukan itu. Dan aku merasakan rasa cemas dipelukan itu. "Tunggu, kalau ini kamu. Lantas, siapa yg memelukku tadi" tanyaku. Aku melirik "Florence" yg pingsan tadi dan menemukan paras cantik Florence, menjadi nenek tua yg sangat menyeramkan. Dia tertawa, lalu mengambil pecahan kaca dan berusaha menusuk kami dengan itu. Kami mundur dan terus mundur hingga kami menabrak dinding. Nenek itu semakin mendekat dan mengayunkan tangannya. Kami berpelukkan. Tetapi yg selanjutnya kami dengar adalah teriakan kesakitan yg mengerikan. Aku membuka sebelah mataku dan melihat nenek itu terbakar dan menghilang.

"Pergi kau, setan!!" teriak Lotus. Dia sedang memegang sebuah botol. "Apa isi dari botol itu, nak?" tanya Florence. "Aku barusan melihat ruang kerja ayah. Lalu aku mendengar suara pecahan kaca dan tawa nenek itu. Aku melihat-lihat sekitar dan melihat ada botol bertuliskan 'air suci'. Tanpa pikir panjang, aku ambil dan berlari ke kamar ini dan menyiramkan air suci ini." jelas Lotus. "Aaah, ibu sangat bangga padamu, nak" kata Florence sambil memeluknya. "Oh iya. Ayah, sepertinya aku tahu siapa yg harus ayah hubungi" kata Lotus sambil mengambil secarik kertas dan memberikannya padaku.

Nama : Felix
umur : 98 tahun
Tinggal: Rumahnya tepat berada di hadapan patung dewa kematian
Diketahui sebagai: Tetua kota ini

Lotus benar, aku harus menghubungi Felix dan menanyakan apa yg terjadi. Dan tentu saja menanyakan arti dari tulisan yg diberikan Nikolai.

Bersambung


Misteri Kota Tua.. Part 3


Setelah kejadian malam itu, kehidupan kami menjadi tidak tenang. Ketakutan kami adalah alasan utamanya. Bagaimana tidak? Kami hampir saja mati. Tetapi, aku tetap bersyukur. Bersyukur karena Florence dan Lotus tetap menyayangiku. Aku sempar berpikir mereka akan marah padaku karena hampir membunuh mereka dan memberi mereka ketidak tenangan yg berketerusan. Aku bangga dan makin menyayangi keluargaku.

Siang ini, aku berencana untuk membeli kaca untuk mengganti kaca yg Florence pecahkan untuk membuat jalan masuk ke dalam rumah. Setelah aku sampai ke toko kaca,  aku bertemu dengan tuan Penderghast. "Hei, aku mendengar apa yg terjadi tadi malam." dia berbicara dengan lemah lembut tanda prihatin. "Kenapa kau tidak mengatakan hal ini sebelumnya? Mengapa kau tidak memperingatiku sebelumnya?"  tanyaku, marah. "Tidak bisa, kami tidak bisa membicarakan hal itu. Atau kami akan mati" . "Penjelasan itu masuk akal juga" benakku. "Kalau kamu ingin lebih jelasnya, bicarakanlah hal ini dengan Nikolai" tambah tuan Penderghast. Ah, iya! Diakan turis di sini. Kenapa tidak terpikir olehku? "Baiklah. Aku akan ke tempat Nikolai setelah membenarkan kaca di rumahku". Setelah membeli dan memasang kaca, aku pergi ke rumah Nikolai dan berbincang padanya.

"Hey Kevin. Aku sungguh minta maaf atas apa yg terjadi semalam. Aku tidak bis..." , "Aku sudah tau. Kalian akan mati jika kalian bicarakan" potongku. Dia menutup rapat mulutnya. Keheningan terjadi selama beberapa menit hingga akhirnya dia mempersilahkan aku masuk. Aku memasuki rumahnya dan duduk di sofa ruang tamunya. "Kevin, aku tahu kamu ingin keluar dari kota ini. Tapi kau harus membantuku. Apakah kamu mau?" tanyanya.  "Baiklah. Apa yg harus aku lakukan?" tanyaku. Lalu Nikolai menjelaskan kalau kami baru bisa keluar dari kota ini setelah kami mendapatkan harta karunnya. Ternyata harta karun itu bukan saja menyimpan harta dan emas yg sangat berharga. Tapi juga merupakan tempat roh-roh jahat bersemayam. Dengan kata lain, jika harta karun itu diambil, roh-roh jahat akan tersegel dan tidak bisa mengurung orang-orang di kota ini lagi. Aku mendengarkannya dengan seksama dan akhirnya memutuskan untuk mencari harta tersebut dan melupakan resikonya.

Keesokan harinya, pagi-pagi kami sudah berkumpul di hutan. Kami sengaja datang pagi-pagi (sekitar jam 06.00) supaya kami memiliki waktu yg lebih lama untuk memecahkan kode demi kode. Setiap hari kami berkumpul jam 06.00 pagi dan pulang jam 04.30 untuk menghindari pulang kemalaman. Dan ternyata hal itu berhasil dan sangat membantu. Hari demi hari kami jalani dengan memecahkan kode demi kode. Teka-teki demi teka-teki. Hingga suatu hari kami duduk termenung. Kebingungan. Teka-teki terakhir yg harus kami pecahkan. 
"Rahasia-rahasia yg hanya diketahui pria bersabit"
Itulah yg tertera di secarik kertas. Sudah berjam-jam kami duduk dan memikirkan apa maksudnya. "Aaah! Mungkin para petani tidak? Mereka biasanya menggunakan sabit" kata Nikolai bersemangat. "Tidak, di sini tidak ada petani" jawabku. Tak terasa sudah jam 04-30 saja. Kami memutuskan untuk pulang dan bertemu lagi seminggu kemudian untuk memikirkan apa maksud dari teka-teki tersebut.

Sesampainya di rumah, Lotus menghampiriku dan bertanya, "Apakah kalian sudah mendapatkan hartanya?" , "Belum. Tinggal memecahkan teka-teki terakhir dan akhirnya kita bisa pulang." jawabku, lesu. "Emang apa teka-teki terakhir itu, yah? Mungkin aku bisa membantu" tawar Lotus. Aku tertawa dan mengelus kepala lotus. "Tidak, kamu sudah banyak membantu ,Lotus." kataku. Memang, sebagian besar teka-teki itu dipecahkan oleh Lotus. Dan sebagiannya lagi istriku, Florence. Sedangkan aku dan Nikolai, hanya sebagian kecil. "Tidak yah. Aku sangat ingin membantu. Sungguh" Lotus semakin semangat. "Baiklah, panggil ibumu dan suruh dia untuk berkumpul di ruang keluarga." perintahku. Lotus berlari kecil menuju dapur, sedangkan aku menuju ruang keluarga.

Kami sudah berkumpul di ruang keluarga. Lotus sudah duduk manis di sebelah istriku. Aku berdehem lalu menyebutkan teka-teki tersebut. Mereka tampak kebingungan. Bahkan Lotus yg paling pintar dalam memecahkan teka-teki saja sampai mengerutkan dahinya. Aku tertawa kecil dan berkata, "Bagaimana kalau kita istirahat saja dulu. Dan ketika kalian sudah mendapatkan jawabannya, beri tahu ayah". Setelah itu, mereka beranjak dari ruang keluarga dan pergi ke kamar masing-masing. Aku pergi ke kamarku dan mengganti bajuku. "Ayah, berapa lama lagi kita bisa pulang? Aku takut" kata Florence. "Secepatnya. Ayah berjanji." kataku sambil memakai piyama. Lalu aku merebahkan diriku di kasur. Di sebelah Florence, istriku yg kucintai. Aku balikkan badanku sehingga kami tidur saling berhadapan. "Ayah, aku sudah tidak tahan lagi tinggal di kota ini. Aku ingin cepat pulang" Kata Florence dengan mata yg berkaca-kaca. Aku tidak menjawabnya. Aku mengelus pipinya dan memberinya kecupan di kedua pipinya. Dan beranjak tidur.

Tengah malamnya aku terbangun. Aku beranjak dari kasur dan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Aku ambil segelas air putih dan ketika ingin meminumnya, aku melihat sekelebat bayangan putih. Masih memegang gelas tersebut, aku mengikuti bayangan tersebut. Aku dapat merasakan ada angin yg kuat memasuki rumahku. Aku mencari sumber angin tersebut dan menemukan ada jendela yg terbuka di ruang tamu. Aku melangkah mendekati jendela tersebut untuk menutupnya. Ketika aku menutupnya, tiba-tiba muncul nenek tua dengan seringainya yg mengerikan dan teriakannya yg memekakkan telinga. Aku terkejut sehingga gelas yg aku lempar tadi terlempar, lalu jatuh dan pecah. Aku mundur beberapa langkah, tapi aku tidak sengaja menginjak pecahan gelas sehingga aku terjatuh. Tusukan tersebut sepertinya dalam, sampai-sampai aku tidak bisa berdiri. Nenek itu tertawa. Tawanya sangat menyeramkan. Sangat memilukan. Aku menutup telingaku karena suara tawa itu terngiang-ngiang di otakku. Tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakan,"PERGI DAN TINGGALKAN RUMAH KAMI KAU TUA BANGKA!!" terdengar suara teriakan Florence berusaha mengusir nenek itu. Nenek itu terlihat marah, lalu menerbangkan vas bunga ke arah Florence. Aku berusaha berdiri, tapi kakiku masih sangat sakit sehingga aku terjatuh lagi. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki Lotus yg berlari dan mendorong ibunya sehingga Florence terhindar dari lemparan vas tersebut. Florence dan Lotus akhirnya saling berpelukkan. "KALIAN HARUS MATI!" kata nenek itu sambil menerbangkan pisau dapur dan siap-siap melemparkannya ke arah kami. Tapi, tiba-tiba saja ada sekelebat cahaya yg menyilaukan mata kami. Kami menutup mata kami dan ketika kami membukanya, nenek itu menghilang. Florence berlari ke arahku dan mengobati kakiku sedangkan Lotus merangkak mendekatiku dan mengatakan, "Ayah, jawaban dari teka-teki itu adalah.."

BERSAMBUNG